Optimisme Petani Tembakau Klaten di Tengah Anomali Cuaca

Petani tembakau Desa Solodiran, Manisrenggo, Klaten, mempersiapkan bibit tanaman tembakau sebelum ditanam, Rabu (30/5 - 2018). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
31 Mei 2018 16:23 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Muhadi, 70, berjongkok di sela-sela gundukan tanah di lahan pertaniannya  di tepi jalan dukuh wilayah Desa Solodiran, Kecamatan Manisrenggo, Rabu (30/5/2018). Ia meneliti setiap ruang antartanaman tembakau yang menghijaukan gundukan itu.

Sesekali tangannya mencabuti rumput agar tak mengganggu pertumbuhan tembakau. Sekitar sebulan terakhir, pria asal Dukuh Krogonalan, Desa Solodiran, itu mempersiapkan bibit tembakau jenis bligon untuk menyambut musim tanam tahun ini.

Aktivitas di sawah ia mulai sejak subuh. Bermodal senter sebagai penerangan, Muhadi mengecek bibit tembakaunya sembari menanti fajar. Muhadi merupakan salah satu petani di Manisrenggo yang berani berspekulasi dan meyakini hasil tanam tembakau membaik di tengah anomali cuaca.

Selama dua tahun terakhir, para petani tembakau rajang di wilayah Manisrenggo, Klaten, dan sekitarnya merugi, tak terkecuali Muhadi. Anomali cuaca dengan turunnya hujan saat kemarau membuat petani hanya bisa pasrah tanaman mereka mati atau kualitasnya menurun.

Pada 2016, Muhadi merugi hingga Rp75 juta. Saat itu, ia menanam tembakau di 10 patok lahan (1 patok sekitar 1.800 meter persegi) yang ia sewa. Modal yang dikeluarkan untuk menanam tembakau di setiap patok sekitar Rp10 juta.

Muhadi menanam tembakau pada 2017 di lahan seluas 10 patok. Saat awal memasuki musim panen daun tembakau tak busuk dan bisa dipanen. Namun, anomali cuaca membuat tanaman tembakau kembali busuk hingga kualitasnya menurun.

“Akhirnya hanya bisa dipanen sebagian. Hasilnya untuk balik modal saja tidak bisa. Sebagian tanaman yang sudah dipanen hanya ditaruh di gudang karena tidak laku. Kalaupun ada yang laku harganya hanya sekitar Rp10.000/kg,” kata Muhadi saat ditemui Solopos.com di lahan pertaniannya, Rabu.

Memasuki musim tanam 2018, Muhadi kembali berspekulasi menanam tembakau bermodal uang sisa tabungan serta optimisme hasil panen akan lebih bagus dibanding dua tahun sebelumnya. Ia menyiapkan 5 patok lahan untuk ditanami tembakau. Optimisme menjadi modal utama Muhadi lantaran cuaca tak bisa diprediksi.

Soal gencarnya kampanye antirokok hingga diperingatinya hari antitembakau saban 31 Mei, Muhadi menjawab dengan tawa. Ia hanya menjawab tak sepakat dengan peringatan hari tersebut. “Harapan paling besar untuk kesejahteraan petani di wilayah kami ini ya dari tembakau,” katanya.

Petani tembakau lainnya asal Desa Tijayan, Kecamatan Manisrenggo, Joko Lasono, juga tak ambil pusing dengan gencarnya kampanye antirokok. Ia meyakini tembakau masih dibutuhkan dan menjadi harapan para petani meraih keuntungan.

“Meskipun ada kampanye antitembakau kami tetap menjadi petani tembakau. Selama tembakau bukan tanaman terlarang seperti ganja, kami tak masalah,” kata Joko yang juga sekretaris Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Klaten  tersebut.