Lebaran, Pengrajin Keripik Belut Klaten Tambah Stok 14 Ton

Pekerja mengemas keripik belut di rumah Ratno Siswoyo, Dukuh Kalitengah, Desa Kalitengah, Kecamatan Wedi, Rabu (23/5 - 2018). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
31 Mei 2018 19:15 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Pengrajin keripik belut di Desa Kalitengah, Kecamatan Wedi, Klaten, menambah stok untuk menyambut Lebaran. Pengrajin menyiapkan tambahan stok hingga 14 ton keripik belut untuk dipasarkan ke berbagai daerah.

Salah satu pengrajin keripik belut, Ratno Siswoyo, 67, menyiapkan tambahan stok untuk keripik belut hingga 14 ton guna mengantisipasi lonjakan permintaan jelang Lebaran. Peningkatan permintaan biasanya mulai terlihat sejak hari pertama Lebaran hingga sebulan berikutnya.

Selain itu, keripik belit produksinya dipasarkan ke sejumlah kota di Jawa hingga Kalimantan. "Kalau yang sudah-sudah stok 14 ton masih kurang," kata dia saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Dukuh Kalitengah, Desa Kalitengah, Kecamatan Wedi, Klaten, belum lama ini.

Ratno menjelaskan penambahan stok mengalami kendala soal ketersedian bahan baku belut. Penyuplai belut di kawasan Klaten mulai langka karena sawah mengering atau tanaman padi meninggi. Karenanya ia mengandalkan kiriman belut dari Demak sebanyak 4-5 kuintal per hari.

Kelangkaan belut, kenaikan harga minyak goreng dan tepung memicu kenaikan biaya produksi. Kendati demikian, Ratno memilih tidak menaikkan harga jual sebelum Lebaran  supaya pelanggannya tidak kaget. Kenaikan harga jual secara mendadak dikhawatirkan menurunkan penjualan.

"Saya masih berjualan dengan harga lama Rp84.000 per kilogram. Nanti setelah Lebaran baru naik. Kalau sekarang naik, saya khawatir banyak konsumen enggak mau membeli," ujar dia.

Hal serupa dilakukan Sunarno, 52, pengrajin keripik belut di wilayah yang sama. Untuk Lebaran kali ini, Sunarno menyiapkan stok sebanyak 10 ton. Keripik produksinya dipasarkan untuk wilayah Jogja dan Wonogiri. "Kalau kenaikan sudah sejak awal puasa permintaan naik. Tapi memang belum ada kenaikan harga," kata dia.

Saban hari, ia memproduksi keripik dari 3 kuintal belut mentah yang disuplai dari Demak. Suplai belut lokal mulai sulit lantaran musim memasuki kemarau. Tak hanya itu, kelangkaan belut memicu kenaikan harga bahan baku.

"Sekarang belut harganya Rp50.000 per kilogram. Padahal, kondisi normal biasanya hanya Rp38.000. Apalagi jelang Lebaran, semua pengrajin pasti juga menambah pesanan belut," beber dia.

Sunarno memperkirakan puncak permintaan keripik belut terjadi pada sepekan setelah Lebaran. Saat itu, harga keripik mulai merangkak naik bahkan bisa menembus angka Rp105.000 per kilogram. "Kenaikannya tahun ini sampai berapa belum tahu karena ada banyak faktor salah satunya musim. Saat ini belut sedang langka," beber dia.