Botoh Sragen Tak Minati Pilgub Jateng 2018

Ilustrasi surat suara (Bisnis/Dwi Prasetya)
04 Juni 2018 04:20 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN--Riuh rendah kampanye pemilihan gubernur (Pilgub) Jawa Tengah 2018 nyaris tak ada gaungan. Aktivitas para pendukung calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) Ganjar Pranowo-Taj Yasin (Ganjar-Yasin) dan Sudirman Said-Ida Fauziyah (Sudirman-Ida) tak marak di Sragen. Hanya beberapa spanduk, baliho, dan umbul-umbul dua pasangan itu yang terpasang di beberapa lokasi strategis Bumi Sukowati. Atribut kampanye itu pun merupakan fasilitas Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Rendahnya animo masyarakat dalam menyambut pesta demokrasi Jawa Tengah setiap lima tahun sekali itu juga dicium para botoh pemilu. Seperti HR, 52, salah satu botoh asal Bumi Sukowati. Ia biasanya sibuk mengamati hasil survei untuk menentukan taruhan. Jumat (1/6/2018) itu, ia bosan melihat hasil survei tetapi sibuk menjalankan bisnis toko bangunan di pinggir jalan tol Sragen-Ngawi.

“Jangankan warga, partai politik saja tidak ada gaung kampanyenya. Hanya aktivitas sukarelawan yang terlihat dari pendukung Sudirman-Ida tetapi saya pesimistis gerakan sukarelawan itu mampu mengimbangi popularitas Ganjar-Yasin yang unggul sejak awal. Teman-teman botoh ogah bermain di pilgub karena mau dimainkan susah. Sampai sekarang saya belum mendapat sinyal permainan botoh,” ujar HR saat berbincang dengan Solopos.com di toko bangunannya, Jumat siang.

Ia justru tertarik dengan peta politik pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Karanganyar. Teman-teman botoh HR dari Ngawi, Madiun, dan Pati serta para botoh asal Karanganyar pun sudah berkomunikasi untuk bermain pada Pilkada Karanganyar. HR mengungkapkan para botoh sudah masuk ke Karanganyar sejak awal pasangan calon mendaftar ke KPU.

“Iya, pemetaan jauh hari. Calonnya sudah jelas. Sampai sekarang sudah terlihat siapa yang unggul dengan selisih yang cukup signifikan. Jangan sebut nama dulu. Nanti pada 1-2 pekan menjelang pencoblosan bolehlah,” ujarnya.

HR tak berani sebut nama calon Pilkada Karanganyar karena bursa taruhan belum ramai. Dia memprediksi bursa botohan pada Pilkada Karanganyar bakal meningkat mulai dua pekan menjelang pencoblosan. HR sudah menyiapkan amunisi untuk memenangi permainan di Karanganyar.

Selain di Karanganyar, HR juga mulai pasang kuda-kuda untuk persiapan pemilu legislatif (pileg) 2019 mendatang. Ia sempat menunjukkan catatan hasil pemetakan para caleg yang muncul per daerah pemilihan per masing-masing partai politik (parpol). Pemetakan yang nyaris matang sudah dikantongi HR untuk daerah pemilihan Karangmalang, Ngrampal, dan Kedawung. Di dapil itu memiliki 8 kursi yang diperebutkan.

Ia melihat potensi kursi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) terancam tetapi munculnya potensi baru dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Selain itu, ia memprediksi ada figur baru di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Golkar untuk menggantikan legislator petahana. Untuk Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Demokrat memiliki peluang yang sama di dapil itu.

Secara keseluruhan tingkat kabupaten, HR memprediksi kursi PDIP bakal naik tetapi kemungkinan tidak sesuai dengan target yang ditentukan partai berlambang banteng moncong putih itu. Ia mengkhawatirkan posisi PKB yang kelihatannya kesulitan mencari figur caleg yang mumpuni. Ia melihat potensi Partai Golkar untuk bertahan pada jumlah kursi yang sekarang sudah bagus. Demikian pula Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan PAN kemungkinan juga stagnan.

“Gerindra dan Demokrat punya potensi. Demikian pula Partai Persatuan Pembangunan (PPP) juga punya peluang karena kemungkinan ada kutu loncat,” tambahnya.

Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Sragen, Heru Cahyono, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Jumat siang, juga merasakan rendahnya animo masyarakat dalam pesta Pilgub Jateng 2018. Dia memprediksi animo publik justru akan meningkat saat menghadapi pileg 2019.

“Banyaknya atribut kampanye yang rusak nyaris tak ada respons dari parpol terkait atau pendukung cagub-cawagub terkait. Konsentrasi parpol lebih pada persiapan menjelang pileg dengan sistem yang berbeda, yakni saint league,” tuturnya.

Kondisi tersebut membuat Heru khawatir angkat partisipasi pemilih pada pilgub cenderung rendah. Apalagi angka daftar pemilih tetap (DPT) cenderung meningkat hingga pencoblosan mendatang karena ada selisih sampai 11.000 orang dengan data wajib kartu tanda penduduk elektronik (KTP) di Sragen.

“Rendahnya partisipasi pemilih itu akan berpotensi terjadi kerawanan pada sisa surat suara yang tidak terpakai karena jumlahnya banyak dan rawan disalahgunakan. Kami sudah membentuk pengawas tingkat tempat pemungutan suara (TPS) untuk konsentrasi pada potensi kerawasan tersebut,” imbuhnya.