Ojek Online Mulai Ikut Sumbang Inflasi Solo

Ilustrasi ojek online (go/jek.com)
05 Juni 2018 11:35 WIB Hijriyah Al Wakhidah Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sektor transportasi menjadi sektor utama penyumbang inflasi Kota Solo pada Mei 2018. Dengan inflasi yang tercatat 0,04%, sektor transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan memberikan andil paling besar hingga 0,13% dengan angka inflasi 0,84%.

Sedangkan bahan makanan yang semula paling dikhawatirkan bakal mengerek inflasi pada awal Ramadan justru mengalami deflasi hingga -0,91%. Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, sektor transportasi yang paling signifikan mengerek inflasi antara lain tarif angkutan udara, jasa servis kendaraan, tarif kereta api, dan tarif taksi.

Tarif angkutan udara, jasa servis kendaraan, dan tarif kereta api dipengaruhi tingginya kebutuhan masyarakat yang mulai memburu tiket untuk arua mudik Lebaran. Kasi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Solo, Herminawati, menjelaskan selain moda pesawat terbang, kereta api, dan taksi, dalam kurun waktu tiga bulan terakhir BPS Solo juga mulai memantau perkembangan ojek online sebagai salah satu objek survei dalam menghitung inflasi.

Ojek online masuk dalam pemantauan BPS karena sudah menjadi sektor jasa yang paling banyak dibutuhkan masyarakat saat ini. "Setiap tanggal 15 selama Maret-Mei ini kami sudah memantau ojek online. Kami pantau dua penyedia ojek online yakni Grab dan Gojek. Kami pantau di tiga lokasi yang sama kami hitung dengan rute dan jarak yang sama dan pada Mei ini terlihat tren kenaikan tarifnya. Mungkin bagi pengguna, kenaikan tarif ojek online ini tidak terasa tapi perhitungan kami pada Mei ini ada kenaikan dan menjadi salah satu penyumbang inflasi," kata Herminawati saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (4/6/2018).

Sementara itu, berdasarkan jenis komoditas, telur ayam ras menjadi komoditas utama penyumbang inflasi karena selama Mei lalu mengalami kenaikan harga hingga 9,36%. Komoditas lainnya yang juga mendorong inflasi antara lain petai, jeruk, daging ayam ras, rokok kretek, dan daging sapi.

Petai mengalami perubahan harga hingga 63,63%. Daging sapi yang selama ini di pasaran terpantau stabil harganya di kisaran Rp120.000/kg ternyata juga tetap menyumbang inflasi. "Inflasi terjadi pada daging sapi yang dijual di pasar modern atau ritel modern. Kalau di pasar tradisional harganya masih stabil," kata dia.

Sementara itu, komoditas pokok yang biasanya menjadi pemicu utama inflasi pada Mei justru menjadi penghambat inflasi seperti bawang putih, cabai merah, cabai rawit, termasuk beras. Kepala BPS Solo, R. Bagus Rahmat Susanto, menuturkan inflasi Mei tahun ini jauh lebih terkendali dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 0,33%.

"Penurunannya cukup tajam meskipun pada Mei tahun ini sudah Ramadan sedangkan Mei tahun lalu belum memasuki Ramadan."

Di satu sisi, Bagus menambahkan tahun ini BPS tengah menyurvei biaya hidup yang akan menjadi dasar bagi BPS menentukan bobot timbangan baru penghitungan inflasi. Seperti diketahui, setiap lima tahun sekali ekonomi dan kebutuhan masyarakat akan komoditas mengalami perubahan dan pergeseran.

Survei biaya hidup dan penghitungan kembali bobot timbangan inflasi sangat diperlukan agar data-data kaitannya dengan inflasi lebih valid sesuai kondisi lapangan. Survei akan merumuskan komoditas yang paling banyak dikonsumsi masyarakat saat ini.

Terpisah, Wakil Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Solo, Bandoe Widiarto, mengapresiasi pencapaian inflasi Solo yang di bawah prediksi Bank Indonesia (BI) 0,30%. Dengan angka ini inflasi year on year di Kota Solo sampai Mei sudah mencapai 2,39%.

Saat ini TPID akan lebih fokus lagi untuk upaya-upaya pengendalian inflasi menjelang Lebaran. Berdasarkan pertemuan TPID dengan distributor pangan di Pendapa Balai Kota Solo Senin sore, yang akan menjadi fokus perhatian TPID adalah potensi kenaikan harga telur ayam ras dan daging ayam yang saat ini masih menemui kendala pasokan dan distribusi.

Sedangkan komoditas lain, seperti bawang putih, cabai, dan beras saat ini harganya masih cukup terkendali dan stok di pasaran pun melimpah. Pada Rabu (6/6/2018), TPID bersama BUMN pangan, pedagang besar, dan perbankan bakal menggelar Pasar Gotong Royong sebagai salah satu instrumen pengendalian harga sebagai pengganti pasar murah.

Kabag Perekonomian Setda Kota Solo, Triyana, pun berharap tren harga komoditas awal Ramadan ini bisa dipertahankan agar inflasi Juni bisa lebih terkendali. Dia pun berharap meskipun Juni ini ada gaji ke-13 dan tunjangan hari raya (THR) masyarakat tetap bisa bijak berbelanja karena aksi borong juga bisa memicu inflasi.