Belanja di Pasar Gotong Royong Solo, Sudah Murah Tetap Saja Nawar

Warga berebut membeli telur di pasar gotong royong di halaman Benteng Vastenburg Solo, Rabu (6/6 - 2018). (Istimewa/Dok. Bank Indonesia)
06 Juni 2018 15:02 WIB Hijriyah Al Wakhidah Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Halaman Benteng Vastenburg sisi utara riuh, Rabu (6/6/2018) pagi. Di sana berdiri stan-stan yang menjajakan kebutuhan pokok baik pangan maupun sandang.

Dari arah stan itulah keriuhan muncul tidak hanya dari pedagang namun lebih heboh lagi dari para pembelinya yang kebanyakan kalangan ibu-ibu. Di salah satu stan yang menjual telur, puluhan ibu-ibu bahkan rela berebut tempat agar segera bisa dilayani penjual supaya tak kehabisan telur ayam ras yang ditawarkan seharga Rp16.000/kg.

Siyam, 53, warga Joyosuran, salah satunya. Tiga plastik telur masing-masing 1 kilogram sudah tertata di meja timbangan. Dia antusias membuka dompet dan mengeluarkan dua lembar uang Rp20.000 dan beberapa pecahan kecil. Dengan membeli telur 3 kilogram, dia harus membayar senilai Rp48.000.

Harga tersebut, menurut Siyam, jauh lebih murah daripada harga telur di pasar yang berkisar Rp20.000-Rp21.000/kg. Meskipun sudah jauh lebih murah, Siyam tetap saja tak melewatkan kebiasaannya menawar harga kepada pedagang.

"Dibayar pas Rp45.000 saja ya, Mas?" kata Siyam.

Si pedagang pun tak mau dengan alasan harga yang diberikan sudah sangat murah di bawah harga dasar. Tak mau berlama-lama, Siyam akhirnya membayar penuh Rp48.000 untuk telur yang dia beli. "Enggak bisa menawar lagi ya enggak apa-apa, ini sudah lumayan, meski hanya bisa beli tiga kilogram ini sudah cukup karena tadi di sana enggak boleh borong banyak-banyak," ujar Siyam.

Siyam akan memanfaatkan telur sebanyak tiga bungkus itu untuk fitrah bagi kerabat yang lebih tua darinya. "Tadi juga sudah beli kebutuhan fitrah ada minyak goreng, roti kaleng satu kardus isi 6 kaleng dan minuman bersoda tiga botol besar. Insya Allah semua untuk fitrah jadi nanti mendekati Lebaran mesti belanja lagi untuk keperluan sendiri. Semoga di pasar harganya enggak naik lagi."

Siyam adalah salah satu warga yang memanfaatkan event Pasar Gotong Royong Bakdan Ning Solo yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Solo, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), serta BUMN pangan, perbankan, pedagang, dan distributor untuk pengendalian harga kebutuhan pokok.

Di pasar tersebut pedagang menyediakan aneka bahan pangan dengan harga yang lebih murah dibandingkan harga di pasar. Selain telur, stan daging ayam juga banyak diburu warga.

Bahkan menurut salah satu pedagang daging ayam, Fatma Irawati, ada salah satu pelanggannya yang sengaja datang ke lokasi Pasar Gotong Royong dan memborong daging ayam 25 kilogram.

"Pagi ini saya bawa 100 kilogram, baru sekitar 1 jam sudah habis 70-an kilogram. Konsumen antusias sekali karena harganya hanya Rp32.000/kg kalau di pasar kan mencapai Rp35.000/kg," ujar Ira yang biasanya berjualan di Pasar Turisari.

Komoditas pangan lain yang juga banyak diburu warga adalah buah-buahan. Bahkan, aneka buah sebanyak satu mobil pikap yang masih parkir di tepi Jl. Jenderal Sudirman langsung diborong warga sebelum dagangannya masuk ke area pasar di halaman Benteng Vastenburg. Pedagang menawarkan buah-buahan seperti semangka dan jeruk dengan harga setengah dari harga pasar. Misalnya, semangka yang biasanya Rp8.000/kg dijual hanya Rp4.000/kg.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Solo, Subagiyo, menjelaskan Pasar Gotong Royong yang akan berlangsung hingga Kamis (7/6/2018) dengan memberikan subsidi harga 10%-40%, bahkan buah bisa mencapai 50%. Subsidi juga diberikan oleh tiga instansi yakni Bank Jateng, Bank Solo, dan PDAM melalui anggaran CSR untuk komoditas telur, daging ayam, cabai, dan bawang putih. "Semua disubsidi sama senilai Rp3.000/kg," kata Subagiyo.

Subsidi itulah yang menjadikan harga telur dan ayam jauh lebih murah ketimbang harga di pasaran. Sekretaris TPID Solo, Taufik Amrozy, mengatakan Pasar Gotong Royog diikuti 76 pedagang yang menyediakan komoditas pangan strategis dan sandang. Berbeda dengan konsep pasar murah, pasar ini mengusung konsep gotong royong yang terilhami upaya pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan secara parsial melainkan harus dilakukan bersama-sama semua stakeholders.

Meski menyediakan bahan pangan dengan harga terjangkau dan tidak ada pembatasan berbelanja, TPID tetap mengimbau warga belanja bijak dengan membeli kebutuhan secukupnya. Jika konsep ini berhasil mengendalikan inflasi, tak menutup kemungkinan pasar gotong royong kembali digelar saat Natal dan Tahun Baru.