Hari Ini Terakhir PKL Musiman Lebaran Boleh Jualan di Solo

Petugas Satpol PP Solo menertibkan PKL musiman yang berjualan di pinggir jalan seputaran Alut Keraton Solo, Senin (18/6 - 2018). (Solopos/Irawan Satpo Adhi)
20 Juni 2018 15:35 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Dinas Perdagangan (Disdag) Solo meminta para pedagang kaki lima (PKL) musiman Lebaran 2018 membubarkan diri atau meninggalkan tempat berjualan mereka paling lambat pada H+4 Lebaran atau Rabu (20/6/2018) ini.

Disdag mewanti-wanti para PKL musiman untuk tidak berjualan melebihi H+4 Lebaran. Disdag bakal menertibkan PKL musiman yang nekat berjualan hingga batas waktu tersebut.

Kabid PKL Disdag Solo, Didik Anggono, menjelaskan alasan Disdag melarang PKL musiman berjualan melebihi jadwal cuti bersama, yakni mengantisipasi mereka menjadi PKL permanen di tempat yang selama libur Lebaran dipakai berjualan.

“Yang pasti besok [Kamis, 21/6/2018] kami akan langsung bergerak untuk memantau PKL musiman. Mereka harus meninggalkan tempat yang memang tidak semestinya untuk berjualan,” kata Didik saat diwawancara Solopos.com, Rabu.

Didik menyampaikan selama ini Disdag tidak sembarangan memberikan izin berjualan bagi PKL musiman. Disdag hanya memberi tolerasnsi bagi PKL musiman yang berjualan di seputaran tempat wisata.

Itu pun mereka diharuskan menempati tempat yang tidak rawan menimbulkan gangguan kenyamanan masyarakat dan arus lalu lintas. Beberapa tempat yang diperbolehkan Disdag untuk dipakai PKL musiman selama ini, yakni sekitar Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), seputaran Sriwedari, Taman Balekambang, dan lain-lain.

“Kalau di jalan, PKL musiman ya tidak kami izinkan berjualan. Seperti yang sudah kami lakukan di jalan seputaran Alut. PKL di sana kami minta pindah karena berpotensi mengganggu kelancaran arus lalu lintas. PKL musiman hanya boleh menempati tempat yang aman,” jelas Didik.

Didik memprediksi kebanyakan PKL musiman yang ditemui di sejumlah tempat keramaian termasuk dekat dengan tepi jalan adalah PKL yang sebenarnya memiliki tempat berjualan resmi baik di pasar maupun selter. Para PKL tersebut nekat keluar dari pasar maupun selter karena ingin memanfaatkan kesempatan saat libur Lebaran di mana banyak orang berlalu lalang di jalan dan mengunjungi berbagai tempat wisata maupun pusat perbelanjaan.

Para PKL tersebut pada Kamis ini diharuskan kembali ke tempat berjualan asli mereka. Seorang PKL musiman, Sutinah, 50, sebelumnya menyesalkan sikap Pemerintah Kota (Pemkot) Solo yang tidak memberikan kelonggaran kepada para PKL untuk berjualan di tepi jalan seputaran Alut hingga sepekan setelah Lebaran.

Menurut dia, pada tahun-tahun sebelumnya para PKL bisa atau diperbolehkan berjualan di seputaran Alut hingga H+7 Lebaran. Perempuan asal Desa Pranan, Polokarto, Sukoharjo, itu pun bingung mau berjualan di mana lagi setelah ditertibkan dari tepi jalan seputaran Alut pada H+2 Lebaran.

“Saya padahal baru kulakan. Kalau tidak jual, barang dagangan saya ini mau buat apa? Biasanya kan kami diperbolehkan berjualan hingga H+7 Lebaran, tapi ini kok belum H+3 Lebaran sudah ditertibkan? Owalah ngene tenan nasib wong cilik,” ujar Sutinah.