Ada Pemudik, Sampah di Sukoharjo Kian Banyak

Ilustrasi truk sampah (Solopos / dok)
20 Juni 2018 02:00 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Volume sampah di Sukoharjo diperkirakan meningkat sekitar 15 persen-20 persen selama perayaan Lebaran 2018 dibanding hari biasa. Petugas kebersihan dioptimalkan hingga malam hari untuk mengangkut sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo, Djoko Sutarto, mengatakan rata-rata volume sampah yang dibuang ke TPA Mojorejo, Kecamatan Bendosari, sekitar 500 meter kubik setiap hari. Saat libur Lebaran, volume sampah meningkat menjadi 700 meter kubik per hari.

“Petugas kebersihan bekerja ekstra keras selama libur Lebaran 2018. Mereka tak libur karena saking banyaknya sampah rumah tangga di permukiman,” kata dia, kepada Solopos.com, Senin (18/6/2018).

Mayoritas sampah tersebut berupa plastik, kaleng maupun stereofoam yang dibawa para perantau yang mudik ke Sukoharjo. Mereka membawa makanan dan minuman kemasan dari daerah perantauan saat pulang kampung. Otomatis, volume sampah membengkak selama perayaan Lebaran.

Selain sampah rumah tangga, pemasok sampah terbesar adalah sampah di pusat kuliner dan jajanan di pinggir jalan. Biasanya, para pemudik memburu kuliner khas Sukoharjo saat pulang kampung.

“Hampir semua warung makan dan restoran di Sukoharjo dipenuhi pengunjung. Artinya, sampah yang dibuang setiap hari juga meningkat dibanding hari biasa,” ujar Djoko.

Para petugas kebersihan disebar di setiap wilayah kecamatan untuk mengangkut sampah rumah tangga maupun warung makan. Sampah-sampah itu dibawa menuju TPA Mojorejo, Bendosari. Mobil pengangkut sampah dioptimalkan agar tak terjadi penumpukan sampah di tempat pembuangan sementara (TPS) yang tersebar di beberapa lokasi.

Djoko tengah fokus mengembangkan pengelolaan TPA berbasis dan berorientasi meningkatkan perekonomian masyarakat. Pengelolaan sampah TPA dilakukan langsung oleh warga setempat. Sampah bisa didaur ulang menjadi pupuk kompos maupun kerajinan tangan yang bernilai ekonomi tinggi.

Tak hanya itu, sampah di TPA bisa dimanfaatkan untuk memproduksi gas metan pada tahun ini. Potensi produksi gas metan di beberapa TPA di Sukoharjo cukup tinggi. Gas metan yang dihasilkan dari sistem sanitary landfill dapat dimanfaatan untuk bahan bakar pembangkit listrik atau waste to energy.

“Kami juga menerapkan sistem sanitary landfill dalam pengelolaan TPA. Sampah yang ada didaur ulang, lalu dimanfaatkan komposnya sementara residu atau sisanya dibuang,” jelas dia.

Sementara itu, seorang warga Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Sulistyo, mengatakan instansi terkait harus menambah bank sampah di setiap desa/kelurahan. Pemerintah desa maupun anggota karang taruna harus digandeng untuk mengelola bank sampah. Masyarakat setempat bakal menerima penghasilan dengan menyetor sampah organic maupun nonorganik ke bank sampah.