Waduk Gebyar Kering, 1.421 Ha Sawah Sragen Tak Bisa Ditanami Padi

Waduk Gebyar di Desa Jambeyan, Kecamatan Sambirejo, Sragen, mengering pada Rabu (20/6 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
21 Juni 2018 12:35 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Waduk Gebyar buatan 1955 yang menampung aliran Sungai Bayut di wilayah Kecamatan Sambirejo, Sragen, mengering  sejak awal Juni lalu. Akibatnya, 1.421 hektare lahan pertanian di wilayah Gondang dan Sambirejo terancam tidak bisa tanam padi.

Ribuan pertani di dua kecamatan itu praktis hanya bisa menanam kacang panjang atau kedelai. Warga Desa Jambeyan, Sambirejo, Sragen, yang tinggal 200 meter di utara Waduk Gebyar, Sugiyono, 39, saat ditemui Solopos.com di kediamannya, Rabu (20/6/2018), mengatakan waduk tersebut mengering sejak pertengahan Bulan Puasa lalu.

Saat waduk mulai mengering, banyak warga yang berlomba-lomba mencari ikan. Kini, kondisi waduk sudah mengering  dan hanya ada sedikit sisa air hujan di pintu irigasi waduk.

“Kami mendengar waduk itu mau dikeruk tetapi kapan waktunya belum diketahui. Waduk itu menjadi wewenang Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo [BBWSBS]. Wilayah aliran irigasi waduk itu sangat luas di wilayah Gondang dan Sambirejo,” ujar Sugiyono.

Penjaga pintu Waduk Gebyar, Nanang Ade Setyanto, enggan memberi keterangan terkait waduk tersebut karena yang berwenang memberi informasi adalah BBWSBS. Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Sragen, Suratno, yang tinggal di wilayah Desa Tunggu, Gondang, Sragen, menyampaikan aliran Waduk Gebyar meliputi dua wilayah di Gondang dan Sambirejo.

Dia menjelaskan sejumlah desa yang masuk dalam aliran irigasi Waduk Gebyar di Kecamatan Gondang meliputi Desa Tunggul, Tegalrejo, Srimulyo, Wonotolo, dan Kaliwedi. Sementara irigasi ke wilayah Kecamatan Sambirejo meliputi Desa Dawung, Sambi, dan Jambeyan.

“Luasan persawahannya tidak begitu hafal. Desa Dawung itu ada 129 hektare, Sambi 100 hektare, Jambeyan 75 hektare, Tunggul 105 hektare, Kaliwedi 150 hektare dan Wonotolo ada 100 hektare,” ujarnya.

Beruntung tanaman padi hasil tanam musim tanam II di wilayah aliran Waduk Gebyar sudah panen semua. Dia menjelaskan dengan ketersediaan air yang mengering di Waduk Gebyar, petani yang memiliki areal sawah di bawah Waduk Gebyar tidak memungkinkan menanam padi.

“Kalaupun petani  memiliki sumur pantek pun maka mereka tidak memungkinkan tanam padi. Tanaman palawija yang memungkinkan, seperti kedelai dan kacang panjang. Dua tanaman itu tidak membutuhkan air berlebih,” tuturnya.

Suratno menilai persoalan tidak bisa tanam padi itu bukan semata-mata karena ketersediaan air di Waduk Gebyar yang mengering tetapi juga dipengaruhi faktor majunya musim tanam. Dia menjelaskan musim panen untuk MT II itu mestinya masih Juli mendatang tetapi kenyataannya hingga medio Juni sudah habis panennya.

“Kemudian kondisi waduk yang mengering tidak hanya di Gebyar tetapi di hampir semua waduk,” tambahnya.