Guru SD Wonogiri Cabuli 33 Siswa Terima Vonis 15 Tahun Penjara

Suratno, 48, terdakwa kasus pencabulan 33 siswi SD digelandang petugas seusai sidang di PN Wonogiri, Kamis (7/6 - 2018). (Solopos/Rudi Hartono)
21 Juni 2018 00:00 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI — Guru PNS nonaktif yang menjadi terdakwa kasus pencabulan dengan korban 33 siswi SD di Girimarto, Wonogiri, Suratno, 48, menerima putusan hakim yang menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara.

Pengacara Suratno, Ganis Wibowo, saat dimintai konfirmasi solopos.com belum lama ini, mengatakan setelah sebelumnya menyatakan pikir-pikir atas vonis hakim, Kamis (7/6/2018) lalu, kliennya mengambil sikap menerima putusan.

Seperti diketahui, putusan hakim lebih berat satu tahun dari pada tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). Hanya, Ganis tak bersedia menyampaikan alasan Suratno akhirnya menerima putusan tersebut.

Kepala Seksi Pidana Umum (Kasipidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Wonogiri, Bagyo Mulyono, melalui JPU, Hafidh Fatoni, mengaku belum memutuskan sikap. Sebelumnya, JPU yang saat pembacaan vonis diwakili Jaksa Dewi Handayani menyatakan pikir-pikir.

Menurut Hafidh pihaknya akan menyatakan sikap apabila terdakwa sudah menyatakan sikap secara resmi. Apabila terdakwa menerima, JPU akan menerima pula vonis hakim, terlebih putusan lebih berat dari pada tuntutan. Jika terdakwa menyatakan banding, JPU akan membuat kontra memori banding.

“Jika terdakwa benar menerima putusan, kami juga akan menerima. Saya kira terdakwa sudah realistis. Kalau banding ada kemungkinan hukuman bisa lebih ringan, tapi bisa jadi justru tambah berat mengingat korbannya banyak,” kata dia yang juga mewakili Kepala Kejari (Kajari), Dodi Budi Kelana.

Kasus yang menyita perhatian warga Wonogiri itu terungkap setelah salah satu korban yang juga anggota polisi cilik (pocil) mengadukan perbuatan Suratno kepada polisi, 2017 lalu.

Majelis hakim yang terdiri atas, Lingga Setiawan sebagai ketua, Ni Kadek Ayu Kamadewi dan Anita Zulfiani, keduanya sebagai anggota, menyatakan Suratno terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan telah melakukan kekerasan seksual terhadap 33 siswi dari dua SD tempat terdakwa mengajar selama 2016-2017.

Menurut hakim, Suratno terbukti menyetubuhi satu korban dan mencabuli 32 siswi lainnya. Hal itu berdasar fakta persidangan yang menurut hakim tak terbantahkan meski Suratno membantah perbuatannya.

Dalam pledoi atau pembelaan, Suratno membantah menyetubuhi salah satu siswi dan mencabuli 32 siswi lainnya. Dia beralasan tak mungkin menyetubuhi orang di lapangan. Terkait pencabulan yang dituduhkan, Suratno beralasan perbuatan itu hanya reflek saat memberi pelajaran olahraga, seperti kayang, memberi napas buatan, renang, dan bela diri. Peristiwa terungkap terjadi di ruang guru, ruang kelas, dan kamar kecil.

Menurut hakim hasil visum membuktikan telah terjadi persetubuhan. Kesaksian korban dan barang bukti menguatkannya, sehingga alat bukti tersebut tak bisa dibantah. Pada sisi lain, menurut saksi ahli perbuatan Suratno bukan reflek tetapi sengaja dilakukan. Pasalnya, pelajaran olahraga tidak seharusnya diberikan di tempat-tempat tertutup dan tidak seharusnya praktik olahraga dilakukan dengan cara yang melanggar norma kesusilaan. Oleh karena itu hakim menolak pledoi Suratno.