Pemkot Solo Perjuangkan 85 Pemain Wayang Orang Jadi CPNS

Peserta ujian CPNS mengerjakan soal menggunakan metode Computer Assisted Test (CAT). (Solopos/Dok)
20 September 2018 14:15 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Harapan para pemain wayang orang Sriwedari Solo untuk diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) kembali kandas pada tahun ini.

Pemkot Solo sudah sejak lama memperjuangkan para pemain wayang orang itu agar diangkat menjadi CPNS untuk mengapresiasi kerja mereka sebagai pelestari budaya. Namun, pada perekrutan CPNS tahun ini tak ada kuota untuk mereka.

Kuota penerimaan CPNS 2018 dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) tidak mengakomodasi pemain wayang orang. Kuota CPNS Solo hanya diperuntukkan tiga bidang, yakni tenaga kesehatan, pendidikan, dan tenaga teknis.

Padahal Pemerintah Kota (Pemkot) Solo telah mengusulkan kuota khusus CPNS bagi 85 pemain wayang orang yang selama ini menghidupkan Gedung Wayang Orang (GWO) Sriwedari.

“Surat usulan pengangkatan CPNS bagi pemain wayang orang kami ajukan lagi ke Kementerian PAN dan RB. Hari ini surat kami kirimkan ke sana,” kata Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo ketika dijumpai wartawan di ruang kerjanya, Rabu.

Kementerian PAN dan RB diminta memprioritaskan pemain wayang orang untuk diangkat menjadi CPNS. Hal itu terutama bagi pemain wayang orang yang usianya sudah mendekati masa pensiun.

Rudy, sapaan akrabnya, meminta Kementerian PAN dan RB tidak menerapkan persyaratan usia maksimal 35 tahun dan tes seleksi CPNS bagi pemain wayang orang.

“Mereka itu statusnya seperti peraih medali dalam ajang olahraga. Hanya saja beda bidang. Mereka bergelut di bidang kesenian dan kebudayaan," katanya.

Pemain wayang orang merupakan pahlawan yang turut menjaga kehormatan bangsa melalui seni menjaga warisan budaya bangsa. “Bayangkan mereka dandan setiap hari sampai malam. Ada yang mau?” katanya.

Rudy menyebut hingga saat ini belum ada generasi penerus yang bersedia menggantikan posisi pemain wayang orang Sriwedari. Mereka yang bermain sebagai wayang seluruhnya sudah berusia lanjut.

Jika pun diangkat sebagai PNS mereka tinggal menyelesaikan masa pensiun. Hal itu juga menjadi pertimbangan untuk memberikan perhatian kepada pegiat seni dan budaya.

“Saya tahu kebutuhan ASN [PNS] di bidang lain juga banyak, tetapi saya ingin memprioritaskan untuk pekerja seni di GWO dan bidang pendidikan,” katanya.

Selain nasib pemain, Pemkot Solo juga tengah menyiapkan pembangunan GWO Sriwedari. Sesuai konsep, GWO akan dibangun lebih modern dengan ruang panggung yang dinamis, penataan akustik baik dan diperhitungkan dengan detail. Selain itu tatanan kursi yang nyaman, dan fasilitas penunjang yang bagi untuk pemain.

Semua ini guna meningkatkan kualitas pertunjukan Wayang Orang Sriwedari di masa datang serta meningkatkan antusiasme dan jumlah pengunjung.

Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Solo Ahyani mengatakan Pemkot akan membangun ulang GWO Sriwedari dengan kualitas internasional yang tidak kehilangan karakter tradisional dan budaya. Pembangunan GWO akan dikerjakan melalui sumber pendanaan dari corporate social responsibility (CSR).

“Solo memiliki banyak potensi pariwisata yang menarik, dan Wayang Orang Sriwedari salah satunya,” katanya.