PT RUM Sukoharjo bakal Kembali Beroperasi, Warga Minta Ini

PT Rayon Utama Makmur (RUM) Sukoharjo (Solopos/Trianto Hery Suryono)
21 September 2018 21:05 WIB Trianto Heri Suryono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Warga sekitar pabrik PT Rayon Utama Makmur (RUM) di Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, meminta bau tidak muncul lagi jika pabrik tersebut kembali beroperasi. Warga meminta pembenahan terus dilakukan selama uji coba pengoperasian.

Pernyataan itu disampaikan pembina Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) Sukoharjo, Sutarno Ari Suwarno, Jumat (21/9/2018). Dia mengaku tidak mendapatkan undangan acara reoperasional PT RUM pada hari ini.

Walau demikian, dia menindaklanjuti laporan warga tentang bau limbah pabrik.

"Saya tidak mendapatkan undangan [sosialisasi reoperasional] tetapi ada informasi dari karyawan [RUM] ada rencana uji coba mesin untuk operasional lagi," ungkap dia.

Dia menyatakan Kamis (20/9/2018) malam dirinya menelusuri laporan warga soal bau. "Sesampai di Dusun Pakelan, Plesan tercium bau. Informasi dari karyawan pabrik sudah memasukkan material dan Kamis malam sudah timbul bau. Polisi sudah kami beritahu soal bau tersebut," beber dia.

Lebih lanjut Ari, menegaskan warga tidak ingin terganggu pernapasan akibat mencium bau limbah. Dia meminta semua cerobong asap dipasang alat pengukur emisi.

"Bau itu ada yang tidak mengganggu. Apabila alasan emisi di bawah ambang batas sedangkan alat monitor belum terpasang semua, bagaimana mengukur ambang batas asap," katanya. Ari meminta semua peralatan terpasang lebih dahulu baru beroperasi kembali.

Masalah bau juga disampaikan warga Gupit, Gito. "Masih muncul bau tetapi tidak lama seperti dahulu," kata dia.

Sekretaris PT RUM, Bintoro Dibyoseputro, mengatakan reproduksi dan reoperasional pabrik mengundang para pemangku kepentingan. Menurutnya pemangku kepentingan secara langsung melihat telah berfungsinya instalasi mesin produksi.

"RUM dapat beroperasi kembali dengan semangat penyempurnaan proses tanpa henti terus-menerus. Acara ini merupakan upaya RUM untuk secara terbuka meyakinkan masyarakat atas kesungguhan dan keseriusan tata kelola lingkungan hidup yang semakin baik," kata dia.

Bintoro menyatakan selama sanksi administrasi dari Bupati Sukoharjo sejak Februari, PT RUM melakukan tiga langkah pengurangan bau. Pertama, pemasangan mesin kendali bau gas yang disebut mesin Wet Scrubber.

Kedua, memasang alat berbasis komputer yang memantau secara terus-menerus atas keluaran gas di cerobong atau disebut CEMS (Continuous Emission Monitoring System).

Ketiga, pipanisasi keluaran hasil olahan limbah cair yang sudah sesuai baku mutu dari pabrik hingga sungai. Lebih lanjut dia, menyatakan saat RUM masih dalam proses uji coba operasi untuk memproduksi serat rayon terjadi keluaran gas H2S ke udara bebas.

"Kejadian itu semata-mata karena faktor teknis saat uji coba operasi berupa proses sinkronisasi dari berbagai permesinan yang banyak dan kompleks," kata dia.

Dia mengatakan dengan adanya protes masyarakat terdampak bau akibat penyelarasan teknis, RUM terpacu untuk meningkatkan kesungguhan guna mempercepat penyetelan mesin secara menyeluruh.