Dikuak, Sejarah Percintaan Raja-Raja Jawa

Diskusi bertajuk Asmaradahana Sri Narendra (Percintaan Raja-Raja di Jawa) di Sasana Mulya Keraton Solo, Minggu (23/9/2018). - Ivan Andimuhtarom
24 September 2018 21:33 WIB Ivan Andimuhtarom Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Komunitas penggemar sejarah Solo Societeit membahas itu dalam diskusi bertajuk Asmaradahana Sri Narendra (Percintaan Raja-Raja di Jawa) di Sasana Mulya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Minggu (23/9/2018). Sekitar 60 peserta menyimak tiga narasumber yang oleh Solo Societeit disebut sebagai pendongeng.

Tiga pendongeng tersebut adalah dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) FKIP Univet Bantara Sukoharjo R. Adi Deswijaya, mahasiswa Pascasarjana Kajian Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Adi Putra S. Wardhana, dan Ketua Solo Societeit Dani Saptoni.

Adi Deswijaya menyinggung Babad Pakubuwana VI yang menggambarkan secara vulgar masalah seksual. Misalnya, perempuan zaman dahulu biasanya memperlihatkan payudara mereka saat menghadap sang raja. Pada masa itu, rakyat yang terpilih sebagai selir akan sangat berbahagia karena otomatis status sosial keluarga menjadi terangkat.

“Salah satu contohnya adalah Kanjeng Ratu Beruk. Awalnya adalah penari Bedaya Ketawang. Karena Raja menginginkan, dia jadi selir,” tuturnya.

Pendongeng lainnya, Adi Putra S. Wardhana memaparkan soal seks raja-raja Jawa. Ia memaparkan seks dalam tradisi Jawa bukan soal kenikmatan semata. Seks menjadi laku spiritual bagi penganutnya.

Simbol seks sering digunakan dalam produk budaya seperti lingga yang menjadi perlambang kemaluan laki-laki dan yoni sebagai perlambang kemaluan perempuan. Bentuk atap rumah Jawa yang disebut meru sebenarnya adalah simbol lingga. Sementara, di dalam dalem ageng, ada tempat bernama sentong yang merupakan simbol yoni.

“Sentong adalah tempat paling sakral yang biasanya digunakan untuk bersemedi dan bercinta. Bercinta di sana supaya anak-anak yang dilahirkan berbudi luhur,” kata Adi.

Adi mengatakan seks, hasrat, dan kekuasaan menjadi landasan para raja Jawa. Dalam Serat Pararaton disebutkan Ken Arok mulanya adalah abdi Tumapel. Suatu ketika, ia melihat jarit Ken Dedes (istri Tunggul Ametung) tersingkap. Ken Arok merasa melihat cahaya dari bagian kemaluan Ken Dedes.

Hal itu ia tanyakan kepada ayah angkatnya, Loh Gawe. Loh Gawe menjawab itu pertanda barang siapa mendapatkan Ken Dedes akan mendapat takhta dan melahirkan keturunan penguasa-penguasa Jawa.

“Ken Arok akhirnya bisa mengawini Ken Dedes. Mereka kemudian bisa menurunkan penguasa-penguasa Jawa, salah satunya Kertanegara,” tutur Adi.

Adi menjelaskan ajaran Tantra Bairawa, yang mengharuskan penganutnya melakukan malima sebanyak-banyaknya. Kalau sudah melakukan semuanya, dia akan berhasil menguasai nafsunya sendiri. “Senggama itu dilakukan sebenarnya untuk mencapai titik kekosongan ketika dia mengalami ekstase. Saat itu, dia akan menunggal dengan Gusti,” kata Adi.

“Seorang raja itu bisa memperoleh legitimasi kekuasaan dari keahlian bercinta, dengan musuh maupun makhluk astral seperti cerita tentang Panembahan Senopati,” lanjut Adi.

Pada bagian akhir dongeng, Dani Saptoni, memaparkan soal posisi selir dan kisah asrama para raja. Raja dalam kebudayaan Jawa diaggap memiliki kekuasaan absolut, wakil Tuhan, sehingga berhak meminta Apa pun yang dia mau. Namun, raja juga harus berbudi luhur serta memiliki kelebihan dalam berbagai aspek lahir-batin.

“Raja selalu dianggap dan memiliki daya linuwih. Secara lahir, mereka tampan, menarik secara bahasa, menarik dalam berpakaian. Secara batin, raja harus sakti. Ingat sebuah kesaksian sejarah. PB X, waktu Pasar Klewer Solo terbakar, beliau datang dan menghunuskan keris, kemudian api padam,” kata Dani.

Di sisi lain, raja yang ideal juga harus memiliki banyak selir sebagai reaktualisasi diri. “Kalau raja selirnya sedikit, ada persepsi tidak kuat,” kata Dani.

Selir itu bukan istri. Mereka baru diangkat jadi istri setelah memiliki anak. Kisah selir bermacam-macam, ada yang romantis hingga tragis.

Pendiri Solo Societeit sekaligus sejarawan Solo, Heri Priyatmoko, mengatakan komunitasnya memproduksi, menyebarkan dan mengapresiasi pengetahuan. Hal itu dilakukan dengan cara lebih informal khususnya dengan metode dongeng dan mengajak masyarakat ke lokasi sejarah secara langsung. “Dengan model pendekatan ini, materi sangat mudah diresapi,” kata Heri.

Sebelum acara, Solo Societeit melakukan riset yang digodok di internal. Kemudian, saat diskusi, Solo Societeit menghadirkan pembicara dari luar dan internal sebagai pembanding.

“Sejarah Jawa tak hanya soal perang, batik, atau mahkota. Ada aspek asmara yang menggerakkan sejarah. Cinta adalah kekuatan besar yang menggerakkan sejarah,” terang Heri.