Kurang Air, 125 Ha Tanaman Padi di Klaten Terancam Mati

Saluran irigasi Colo Barat, Karangdowo, Klaten, dalam kondisi kering, Minggu (14/10 - 2018). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
15 Oktober 2018 14:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Sekitar 125 hektare (ha) tanaman padi di Kecamatan Karangdowo, Klaten, terancam mati dan puso alias gagal panen karena kekurangan air.

Jika tak mendapat air dalam dua pekan mendatang, petani hampir pasti gagal panen. Petani dan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten hanya berharap segera turun hujan.

Salah satu petani di Desa Soka, Kecamatan Karangdowo, Ponidin, 68, mengatakan awalnya petani mengandalkan irigasi dari saluran Colo Barat. Hanya, sejak 1 Oktober lalu aliran ditutup.

Ponidin memanam padi di tiga patok sawah dengan setiap patok memiliki luasan 1.700 meter persegi hingga 1.800 meter persegi. Saat ini, usia padi yang ia tanam sekitar dua bulan.

“Kalau tidak ada air ya sekitar dua pekan lagi puso,” kata Ponidin saat ditemui Solopos.com di lahan pertaniannya, Minggu (14/10/2018).

Ponidin menuturkan upaya mendapatkan air dari saluran irigasi selain Colo Barat sudah dilakukan dengan pembuatan sumur pantek. Namun, air tak keluar meski telah mengebor hingga kedalaman 25 meter.

Terkait upaya mengurangi risiko kerugian, Ponidin memompa air sungai yang juga mulai mengering. Air berada di cekungan-cekungan dasar sungai.

“Kalau ada sisa air yang mengalir di sungai ya dimanfaatkan. Sawah yang berada di pinggir sungai seperti ini masih bisa terbantu dengan sisa air sungai. Kalau yang di tengah itu tetap tidak bisa memanfaatkan. Harapannya ya segera turun hujan,” urai dia.

Biaya produksi yang dikeluarkan Ponidin untuk musim tanam kali ini sekitar Rp2 juta. Biaya itu belum termasuk untuk bahan bakar pompa air serta tenaga penunggu mesin pompa untuk mencari sisa-sisa air sungai.

Plt. Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten, Joko Siswanto, mengatakan saluran Colo Barat ditutup selama sebulan sejak 1 Oktober lalu untuk pemeliharaan.

Dari hasil pendataan, ada sekitar 125 ha sawah ditanami padi yang mengandalkan irigasi dari saluran Colo Barat. Sawah-sawah itu di antaranya berada di Soka, Ringinputih, Karangdowo, dan Tumpukan, Kecamatan Karangdowo.

“Rata-rata sekarang usia tanaman padi 30-an hari,” kata Joko.

Ia menjelaskan sebagian petani masih bisa mengandalkan air di cekungan-cekungan sepanjang sungai. Namun, air tak bisa menjangkau seluruh lahan pertanian yang terancam puso tersebut.

Joko mengatakan belum terlihat dampak dari minimnya air untuk irigasi seratusan ha sawah tersebut. Namun, jika tak kunjung mendapatkan suplai air dalam dua pekan mendatang, padi yang ditanam di 125 ha sawah tersebut mati.

“Tergantung air hujan. Mudah-mudahan saja hujan segera turun di wilayah-wilayah tersebut,” katanya.