ABG Korban Pembunuhan di Sukoharjo Dimakamkan, Tangis Keluarga dan Teman Pecah

Retno Ayu Wulandari saat masih hidup (Facebook)
20 Oktober 2018 13:20 WIB Mahardini Nur Afifah Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO – Suasana haru menyelimuti Rusunawa II Begalon di Kampung Begalon RT 008/RW 003, Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan, Sabtu (20/10) siang. Salah satu penghuninya yang menempati lantai III rumah susun setempat, Retno Ayu Wulandari, 14, menjadi korban pembunuhan dan ditemukan di dekat tempat penggilingan padi Desa Trosemi, Kecamatan Gatak, Sukoharjo, Jumat (19/10/2018) dini hari.

Sebelum diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir ke TPU Daksinoloyo Danyung di Kwarasan, Baki, Sukoharjo, jenazah perempuan yang akrab disapa Ayu ini disemayamkan di selasar rumah susun.

Tangis ibunda korban, Welly Ungranti, yang duduk didampingi kerabat dan tetangganya pecah begitu peti jenazah korban diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir. Beberapa warga dan rekan Ayu juga tak kuasa membendung air matanya.

Salah satunya, Nabila. Siswi kelas IX SMP Murni Solo ini bersama sejumlah temannya turut melayat ke rumah duka. Ia sempat satu sekolah tapi beda kelas dengan Ayu sebelum mendiang tak lagi melanjutkan pendidikannya karena alasan pribadi saat kelas VII.

Nabila terakhir bertemu Ayu dua pekan lalu atau Sabtu (6/10/2018) malam. “Dulu Ayu main ke rumahku. Kami nongkrong di wedangan depan Masjid Tegalsari Laweyan. Waktu itu dia ngobrol-ngobrol sebentar lalu pulang,” katanya.

Dalam pertemuan tersebut, Nabila menceritakan Ayu tidak membahas persoalan pribadinya. Di mata perempuan berjilbab ini, Ayu merupakan sosok yang baik dan supel. Ia juga tak segan membantu teman yang kesusahan. “Kaget banget waktu dengar kabar ini [pembunuhan Ayu] dari teman-teman sekolah kemarin [Jumat],” ujar dia sembari menahan tangis.

Teman lain korban Fathur, 16, juga syok mendengar kabar Ayu meninggal dunia beredar luas di media sosial. Ia tak menyangka kenalannya tersebut pergi di usia belia. “Aku kenal dari Fb [Facebook]. Jarang kumpul, tapi sering chat sama komen-komenan. Sama pacarnya juga kenal,” katanya.

Pelajar yang sekolah di salah satu SMK di Solo ini bersama sejumlah temannya enggan mengantarkan korban ke tempat peristirahatan terakhir. Mereka mengaku tak sampai hati lantaran menganggap pembunuhan Ayu kelewat sadis. “Enggak ikut. Enggak tega. Hla wong malam sebelumnya saja masih chat. Dia anaknya asik,” kenang Fathurdengan mata berkaca.