Api Kebakaran TPA Putri Cempo Solo Padam, Warga Khawatir Asapnya

Api melalap gunungan sampah di TPA Putri Cempo, Mojosongo, Solo, Sabtu (20/10 - 2018) malam. (Solopos / Bayu Jatmiko Adi)
21 Oktober 2018 17:15 WIB Tamara Geraldine Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Kebakaran sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Mojosongo, Solo, sudah padam pada Minggu (21/10/2018) pagi. Namun, asap masih keluar dari sisa-sisa kebakaran. 

Berdasarkan pantauan Solopos.com, Minggu (21/10/2018) pukul 13.00 WIB masih terlihat kepulan asap membubung tinggi di sekitar TPA Putri Cempo. Kepulan asap di sana menyelimuti pemukiman warga sekitar. 

Salah satu warga RT 001/RW 029 Randusari, Mojosongo, Suryani, mengatakan kebakaran sampah TPA Putri Cempo pada Sabtu (20/10/2018) malam menyebabkan asap yang membuat dirinya dan keluarganya tak berani membuka pintu dan jendela rumah. 

Mereka harus menutup pintu rumah pakai kain agar asap tidak terlalu banyak masuk ke rumah. “Kami takut saja kalau asap masuk hingga kawasan rumah. Ya memang ini bukan kali pertama TPA ini kebakaran. Tapi saat ini saya punya bayi kecil dan takut bayinya sesak napas. Ini saya mau mengungsi ke rumah ibu saya dulu di Kerten,” ujarnya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Solo, Gatot Soetanto menjelaskan belum mengetahui pasti penyebab kebakaran Sabtu malam. Namun, dia memastikan kebakaran tersebut tak terkait aktivitas pembakaran sampah. 

“Kejadian Kebakaran ini bukan karena pembakaran sampah. Di sini sampah tidak boleh dibakar,” ujar Gatot Soetanto, Minggu.

Gatot Soetanto menjelaskan api baru bisa dipadamkan pada Minggu dini hari atau belasan jam kebakaran sejak api kali pertama terdeteksi. Gatot mengatakan petugas terus melakukan proses pendinginan di lokasi kebakaran. 

Terlebih, lokasi kebakaran itu sulit dijangkau dan membuat proses pemadaman tidak bisa berjalan secara maksimal. 

“Lokasinya di bukit-bukit dan hal ini cukup menyulitkan petugas untuk memadamkan api. Di sisi lain, api yang saat ini sudah padam ada kemungkinan kembali menyala jika terkena angin. Apalagi ini kemarau jadi ada kemungkinan api muncul kembali,” ujarnya. 

Pengelola TPA Putri Cempo, Muh. Pramujo, mengatakan cuaca hari itu panas dan angin kencang bertiup di kawasan TPA sehingga menyulitkan upaya pendinginan sisa kebakaran.

“Ya susah, api ini akan benar-benar mati jika ada hujan lebat. Ya semenjak padam hingga kini pukul 13.00 WIB masih berasap tebal di kawasan gunungan bekas kebakaran. Kemungkinan masih ada api yang menyala walaupun kecil. Kendati demikian kami selalu mengawasi area,” ujarnya.

Pramojo mengatakan sudah ada beberapa mobil damkar yang dikerahkan tadi malam tetapi hingga kini kawasan itu masih berasap dan menggnggu lingkungan perkampungan warga.

"Semalam ada puluhan mobil damkar yang dikerahkan. Pemadaman dilakukan Damkar kabupaten lain, seperti Karanganyar, Sukoharjo, Wonogiri, dan Boyolali guna membantu pemadaman api di TPA Putri Cempo,” ujarnya.

Pramujo mengaku kewalahan menjinakkan api yang membakar sampah TPA. “Kami mengendalikan api dengan bantuan tangki penyiram taman dari DKP [Dinas Kebersihan dan Pertamanan]. Rata-rata per hari tiga tangki air. Sulit untuk memadamkan api, ditambah kondisi musim kemarau. Api jika terkena angin sedikit saja akan merembet,” ujarnya.