Pengolah Limbah Komunal di Laweyan Solo Tak Optimal, Kenapa?

Kondisi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal terlihat tidak terawat di bantaran Kali Jenes, Laweyan, Solo, Kamis (25/10). IPAL komunal bantuan dari Jerman dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Solo tersebut kondisinya tidak terawat sehingga hanya bisa menyaring 40% limbah. - Nicolous Irawan
25 Oktober 2018 21:49 WIB Ratih Kartika Solo Share :

 Solopos.com, SOLO—Mantan pengelola IPAL komunal industri, Sumarno, menjelaskan IPAL itu masih beroperasi meskipun kadar penyaringan air limbah saat ini hanya mencapai 40% dibandingkan saat dia rawat. Saat itu, IPAL bisa menyaring 70% air limbah dari industri batik di Laweyan.

“Dulu awalnya ada sembilan pabrik yang menyerahkan pembuangan ke IPAL, kemudian sampai sekarang hanya tinggal empat pabrik yang masih memanfaatkan IPAL itu,” kata Sumarno, Kamis (25/10/2010).

Dia menjelaskan industri tersebut ada yang bangkrut maupun berpindah. Dana untuk perawatan berkurang. Sudah tiga tahun ini dia tidak mengurus lagi. IPAL tersebut kurang terawat. Air limbah dibiarkan saja. “Masih mengalir kalau sore meskipun sedikit-sedikit [pembuangan limbahnya]. Pukul 03.00 WIB juga sudah beroperasi, meskipun sudah tidak semaksimal dulu,” ungkap Sumarno.

Dia menjelaskan tidak terawatnya IPAL karena pemasukan dari industri yang menggunakan jasa IPAL mulai berkurang. Pembersihan seharusnya dilakukan setahun dua kali, kini tidak pernah dibersihkan lagi karena tidak ada yang merawat. “Kalau tidak dibersihkan akan tertutup lumpur dan pembuangan menjadi tidak maksimal. Penyaringan saat ini sudah tidak bisa keseluruhan menyaring air limbah,” tutur Sumarno.

Tarif bagi industri yang menggunakan IPAL Rp30.000–Rp50.000/m3, sedangkan tarif Rp70.000/m3 sudah tidak ada lagi. Industri yang membayar Rp70.000 sudah bangkrut.

Di daerah tersebut kebanyakan showroom maupun toko yang menjajakan batik. Industri pembuatan batik di RW tersebut kian sedikit. “Airnya sudah meluber karena tidak ada yang mengurusi. Sudah enggak pernah dikuras lagi,” jelas Sumarno.

Warga setempat, Supadi, mengeluhkan bau air dari IPAL tersebut. Bau makin menyengat setelah hujan. Bau dari IPAL akan bercampur dengan bau sampah maupun Kali Jenes yang warnanya  hitam. akibat tercemar.

Lurah Laweyan, Yuyuk Yuniman, menjelaskan IPAL tersebut merupakan bantuan dari Jerman dan DLH Solo untuk warga Laweyan yang memiliki industri batik. Perawatan IPAL dikelola oleh Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan.

“Kali Jenes sudah tercemar sejak dulu, kami juga minta bantuan IPAL tambahan ke Pemkot Solo, tapi terkendala oleh lahan,” paparnya. (Ratih Kartika)