Perumda Pedaringan Solo Kembangkan Sistem Resi Gudang Khusus Beras

Truk terparkir di Pusat Pergudangan Kota (PPK) Pedaringan, Jebres, Solo, Senin (6/2 - 2017). (Solopos/Nicolous Irawan)
26 Oktober 2018 19:10 WIB Abdul Jalil Solo Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Perumda Pergudangan dan Aneka Usaha Pedaringan Kota Solo melirik usaha lain selain pergudangan dan logistik yang selama ini telah dijalankan. Salah satu usaha yang akan dikembangkan yaitu distribusi beras dan penerapan sistem resi gudang untuk komoditas beras.

Hal itu dikatakan Direktur Utama Perumda Pergudangan dan Aneka Usaha Pedaringan Kota Solo, Chriswanto Tri Santoso, seusai mengikuti studi banding tim pengendali inflasi daerah (TPID) Soloraya ke DKI Jakarta, Jumat (26/10/2018).

Chris menuturkan BUMD khusus pangan yang dikembangkan Pemprov DKI Jakarta sangat efektif dalam mengendalikan inflasi di Ibu Kota. Sebab, tiga BUMD khusus pangan yang dimiliki DKI Jakarta yakni PT Food Station Tjipinang Jaya, PD Dharma Jaya, dan PD Pasae Jaya memiliki peranan penting dalam pengendalian inflasi.

Namun, ia menyadari tidak seluruh konsep yang diterapkan di tiga BUMD itu bisa diterapkan dan direplikasi di Perumda Pedaringan. Salah satunya persoalan yang mencuat yaitu masalah pendanaan. Karena di DKI Jakarta setiap tahun mengeluarkan anggaran lebih dari Rp800 miliar untuk memberikan subsidi kepada masyarakat yang dikelola tiga BUMD itu.

Seperti BUMD Food Station di Jakarta, kata dia, Perumda Pedaringan saat ini juga dipercaya Pemkot Solo untuk menyalurkan beras bantuan kepada masyarakat. Namun, jumlahnya hanya 1.700 penerima dari total 31.000 penerima bantuan.

"Bantuan beras ini baru dikelola Pedaringan tiga bulan. Kami baru dipercaya untuk menyalurkan 1.700 paket beras. Bantuan ini disalurkan sebulan sekali," ujar dia saat berbincang dengan Solopos.com.

Pihaknya saat ini juga sedang menerapkan sistem resi gudang khusus komoditas beras. Sistem ini diduplikasi dari sistem serupa yang telah dikembangkan Food Station Jakarta.

Sistem resi gudang ini adalah dokumen bukti kepemilikan barang yang disimpan di gudang yang diterbitkan oleh pengelola gudang. "Sistem resi gudang ini seperti deposito. Jadi petani menyimpan beras ke gudang kami, kemudian mendapatkan sertifikat. Sertifikat ini bisa digunakan untuk agunan di bank," jelas Chris.

Saat ini ada satu petani asal Klaten yang menyimpan beras di gudang Pedaringan dengan sistem resi dengan total beras yang disimpan 10 ton.

Dia menceritakan Pedaringan saat ini juga telah merambah ke usaha pengemasan beras. Namun, dengan skala kecil dan menggunakan alat sederhana.

"Kami sudah melakukan pengepakan beras. Ada yang seberat 2,5 kg, 5 kg, 10 kg, dan 25 kg. Kami tahun lalu juga melakukan kerja sama dengan Food Station dan telah mengirim beras ke Jakarta 230 ton. Namun, kerja sama itu hanya berlangsung satu tahun," terangnya.

Salah satu langkah yang dilakukan, jelas Chris, menjalin kerja sama dengan beberapa daerah sekitar yang memiliki lahan pertanian produktif. Ini sangat penting dilakukan karena Solo tidak memiliki lahan pertanian seperti di Jakarta.

Lebih lanjut, sejauh ini unit usaha yang dijalankan Pedaringan yaitu masih di sektor pergudangan dan logistik. Salah satu penghasilan utama Pedaringan yaitu dari logistik.

Perumda Pedaringan tahun 2019 mengajukan penyertaan modal kepada Pemkot Solo senilai Rp11 miliar. Modal ini direncanakan untuk pembangunan SPBU di kawasan Jebres.

Perumda Pedaringan tahun 2018 ini ditarget PAD senilai Rp1,2 miliar. Hingga Oktober, realisasi PAD baru sekitar Rp800 miliar.