Januari 2019, Bangunan Pasar Legi Solo Rata Tanah!

Pedagang Pasar Legi Solo mengeluarkan barang dagangan dari kiosnya, Jumat (2/11 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
12 November 2018 06:15 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pemkot Solo terus mengebut proses penghapusan aset bangunan Pasar Legi yang terbakar pada 29 Oktober lalu. Bangunan tersebut ditargetkan rata dengan tanah pada Januari 2019.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Endah Sitaresmi Suryandari mengatakan masih menaksir nilai bangunan bekas Pasar Legi. Penaksiran tersebut dilakukan sebagai syarat pembangunan kembali pasar induk terbesar di Kota Solo.

“Sekarang masih kami taksir bangunannya. Baru nanti dilelang penghapusan aset, terus dibongkar,” katanya ketika dijumpai Solopos.com di sela-sela kerja bakti Pasar Legi, Minggu (11/11/2018).

Sita memastikan nilai aset bangunan Pasar Legi pascakebakaran mengalami penurunan. Hanya, dia belum bisa memastikan berapa persen penurunan nilai aset itu. “Ya mengalami penurunan. Soal berapa nilainya ya tunggu hasil penaksiran nanti,” katanya.

Selain menaksir bangunan tersebut, Dinas PUPR juga akan mengkaji secara teknis soal kekuatan bangunan. Dengan demikian menentukan apakah bangunan itu masih layak digunakan atau tidak.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Solo Subagiyo mengatakan pembangunan kembali Pasar Legi pascakebakaran akan dikerjakan setelah dilakukan penghapusan aset bangunan tersebut.

Pasar Legi tidak bisa dibangun karena aset bangunanya masih tercatat di neraca aset Pemkot. “Prosesnya bangunan harus ditaksir. Setelah itu dilelangkan baru dilakukan pembongkaran. Saat pembongkaran itu, statusnya sudah dihapus dari neraca aset,” katanya.

Sesuai rencana ada tiga tahapan proses lelang yang dikerjakan Pemkot. Ketiganya yakni lelang penghapusan aset, lelang detail engineering design (DED) pembangunan, dan lelang fisik bangunan.

Tahapannya proses lelang penghapusan aset maupun DED diperkirakan masing-masing membutuhkan waktu satu bulan. Selanjutnya Pemkot mempersiapkan lelang fisik pembangunan Pasar Legi.

“Kami targetkan Januari bangunan lama sudah dibongkar dan tinggal menunggu pembangunan,” katanya.

Saat ini Pemkot tengah terfokus pada pembangunan pasar darurat bagi pedagang terdampak kebakaran Pasar Legi. Sebanyak 100 tenda bantuan Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah dipasang.

Selain itu pelataran parkir juga digunakan untuk membangun pasar darurat dengan menggunakan material baja ringan bekas digunakan pedagang Pasar Klewer.

“Bekas material pasar darurat Klewer digunakan untuk pedagang los Pasar Legi. Sedangkan tenda di jalan-jalan sekitar pasar,” katanya.

Bagi pemilik kios Pasar Legi, Pemkot tengah menyiapkan pembangunan di sejumlah ruas jalan di sekitar pasar di antaranya Jl. Sabang, Jl. Lumban Tobing, dan lainnya.

Pemkot memberlakukan sejumlah persyaratan bagi pedagang yang akan menempati pasar darurat. Salah satunya pedagang Pasar Legi diwajibkan menunjukkan bukti kepemilikan kios dan los.

Bukti tersebut berupa surat hak penempatan (SHP) dan Kartu Tanda Pengenal Pedagang (KTPP). Bagi pedagang yang kehilangan SHP dan KTPP wajib membuat surat kehilangan ke polisi dan dilaporkan ke Disdag.

Khusus bagi pedagang pelataran, bukti penempatan akan dilakukan dengan menghadirkan saksi pedagang lain. Kesaksian tersebut nantinya akan dicek kebenarannya dengan petugas penarik retribusi pasar.

“Jadi tidak ada lagi pedagang yang mengaku-aku jualan di Pasar Legi. Semua harus ada buktinya,” kata dia.