Asale Desa Talakbroto Tanah Kebahagiaan di Boyolali

Seorang warga mengecek ketersediaan air di salah satu sumber mata air yang kini beralih fungsi sebagai Pamsimas di Desa Talakbroto. Banyaknya sumber mata air diyakini menjadikan Pangeran Pengging bertempat tinggal sementara di kawasan ini. Foto diambil belum lama ini. (Solopos/Nadia Lutfiana Mawarni)
12 November 2018 15:47 WIB Anik Sulistyawati Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI - Desa Talakbroto, terletak di Kecamatan Simo bagian utara, Boyolali. Desa ini relatif jauh dari perkotaan lantaran berada di dataran tinggi dekat dengan kawasan Gunung Madu. Konon katanya, Talakbroto sudah ada sejak zaman Kerajaan Demak. Nama desa ini berasal dari istilah bahasa Jawa, Taraka Barata yang berarti berjuang untuk kebahagiaan.

Sekretaris Desa Talakbroto, Suseno Utomo, mengatakan pemberian nama desa tidak bisa dilepaskan dari cerita sejarah pemberontakan Pangeran Pengging dan anaknya Mahesa Kenanga melawan Kesultanan Demak. Menurut cerita yang beredar di di desa setempat, saat pemberontakan itu terjadi Pangeran Pengging sempat mengungsi ke daerah baru. Dia pergi bersama anaknya dan seorang abdi yang dikenal dengan nama Mbok Nyai.

Saat pergi dari kawasan Pengging, Banyudono, ketiganya menemukan tempat baru yang masih sepi. Di sana hanya ada satu bukit yang kemudian digunakan sebagai makam Rogo Runting. Daerah itu dianggap tempat yang cocok menjadi tempat tinggal sementara. Alasannya, ada tiga sumber mata air yang bisa digunakan untuk kebutuhan hidup. Mbok Nyai kemudian menitipkan sebuah pesan kepada Pangeran Pengging. Katanya, jika suatu hari tempat ini digunakan sebagai perkampungan dan berkembang menjadi sebuah desa nama yang disematkan adalah yang berhubungan dengan perdamaian.

“Saat itu Mbok Nyai menyebutkan dua kata taraka dan barata,” ucap Suseno ketika berbincang dengan reporter Solopos.com, Nadia Lutfiana Mawarni di Balai Desa belum lama ini. Kedua kata itu kemudian disatukan menjadi Talakbroto. Hingga kini, Desa Talakbroto masih menjaga sumber-sumber air sebagai potensi desa. Satu di antaranya menjadi sumber Pamsimas dan memenuhi kebutuhan sekitar 80 keluarga. Sumber air yang lain dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian.

Informasi yang dihimpun Solopos.com pemberontakan Pangeran Pengging terhadap Kesultanan Demak terjadi karena Pangeran Pengging tidak mau menghadap ke Kesultanan Demak. Padahal saat itu wilayah Pengging masih berada di bawah kekuasaan Demak. Pemberontakan makin menjadi ketika Syekh Lemah Abang alias Syekh Siti Jenar yang merupakan guru spiritual Pangeran Pengging dituduh menyebarkan ajaran sesat oleh kesultanan.

Kesultanan Demak kemudian menyuruh Sunan Kudus berangkat ke Pengging untuk menjemput paksa Pangeran Pengging. Namun demikian, Pangeran Pengging lebih memilih merelakan kematian ketimbang harus menghadap Raden Patah, Raja Demak saat itu.

Ada dua versi cerita soal kematian Pangeran Pengging yang beredar di kalangan warga Talakbroto. Versi pertama, Pangeran Pengging meninggal karena ditusuk oleh keris Sunan Kudus, namun ada yang menyatakan Pangeran Pengging meninggal atas kemauannya sendiri. Meski demikian, hingga kini tidak ditemukan bukti fisik peninggalan Pangeran Pengging di desa tersebut.