Warga Klaten Meninggal Dunia Diserang Tawon

Alif, 36, menunjukkan tempat sarang tawon yang menyerang ayahnya, Bardiman, warga Dukuh Jogodayoh, Desa/Kecamatan Kalikotes, Klaten, Minggu (11/11 - 2018) sore. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
12 November 2018 16:40 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Bardiman, 67, warga Dukuh Jogodayoh, RT 006/RW 001, Desa/Kecamatan Kalikotes, Klaten, meninggal dunia setelah diserang tawon di pekarangan rumahnya, Minggu (11/11/2018) sore.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 16.30 WIB. Sarang tawon berukuran besar berada di pohon mangga di pekarangan samping rumah Bardiman. Saat kejadian, Bardiman berada di rumah bersama istrinya, Wiwik.

Ketua RT 006/RW 001, Dukuh Jogodayoh, Sihono, 60, mengatakan warga mengetahui peristiwa itu setelah istri Bardiman berteriak minta tolong. Warga yang berdatangan dikejutkan dengan kondisi Bardiman sudah dikerumuni tawon berwarna hitam bergaris kuning melingkar.

Warga lantas membawa Bardiman menjauh dari pekarangan hingga ke rumah salah satu warga agar tawon tak terus menerus menyerangnya. Saat itu, Bardiman masih dalam kondisi sadar.

“Wajah hingga leher sudah penuh dengan sengatan tawon. Kondisi bekas sengatannya itu ada warna hitam seperti gosong. Saat dibawa ke rumah tetangga itu tawonnya masih mengejar,” kata Sihono saat ditemui wartawan di rumahnya, Senin (12/11/2018) sore.

Setelah itu Bardiman dilarikan ke RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro. Namun, nyawa Bardiman tak tertolong dan meninggal dunia sekitar pukul 20.00 WIB. Oleh keluarganya, Bardiman dimakamkan pada Senin siang.

Sihono menjelaskan sarang tawon di pohon mangga pekarangan milik Bardiman berdiameter sekitar 40 sentimeter dengan panjang sekitar 50 sentimeter. Sarang tersebut berada di dahan pohon mangga.

Selama ini, warga tak mengetahui jika di pekarangan rumah Bardiman terdapat sarang tawon berukuran besar. Ia mengatakan sarang tawon sudah dimusnahkan setelah dilaporkan ke Unit Pemadam Kebakaran (Damkar) Klaten.

Sihono menjelaskan sekitar setahun lalu ada sarang tawon yang juga berukuran besar berada di pohon kelengkeng milik warga setempat.

“Saat itu dimusnahkan secara manual. Mungkin saja ada tawon yang tidak mati hingga memindahkan sarangnya di pohon mangga milik korban,” ungkapnya.

Salah satu putra Bardiman, Alfi, 36, menjelaskan orang pertama yang mengetahui ayahnya terserang tawon adalah ibunya, Wiwik. Saat itu, Wiwik melihat Bardiman sudah tergeletak dan dikerumuni tawon.

Sementara Bardiman tak bisa melarikan diri karena kondisi tubuhnya yang sudah menua. “Informasi dari kerabat saya itu Ibu datang mengusir tawon yang menyerang kemudian ada warga yang datang membantu menolong mengenakan helm dan jaket kemudian dibawa menjauh. Bapak masih sempat sadarkan diri,” katanya.

Alfi mengatakan selama ini ia tinggal di Semarang dan sepekan sekali pulang untuk menengok orang tuanya. Terkait keberadaan sarang tawon tersebut, ia menjelaskan sebulan lalu sarang tawon berukuran besar tersebut sudah berada di pohon mangga.

Alfi berharap warga yang mendapati sarang tawon berukuran besar segera melaporkan ke petugas agar dibasmi.

Petugas Damkar Klaten, Irwan Santosa, mengatakan sudah ada sekitar 400 laporan keberadaan sarang tawon yang diterima Damkar Klaten. Ia mengatakan sudah ada sejumlah korban meninggal dunia akibat serangan tawong di Klaten yang mayoritas balita.

Banyaknya temuan sarang tawon berukuran besar tersebut masih diteliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). “Ketika ada sarang tawon berukuran besar segera laporkan ke Damkar. Kami pastikan untuk penanganan gratis, tidak dipungut biaya,” katanya.