Tertimpa Pohon Tumbang di Solo Jangan Harap Dapat Kompensasi

Pohon Flamboyan roboh menimpa mobil di halaman Benteng Vastenburg, Solo, Selasa (13/11 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
14 November 2018 17:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Masyarakat yang menjadi korban tertimpa pohon tumbang di wilayah Kota Solo dipastikan tidak akan mendapatkan kompensasi dari Pemerintah Kota (Pemkot).

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Solo mengaku tak memiliki anggaran untuk memberikan kompensasi kepada masyarakat yang menjadi korban tertimpa pohon tumbang ataupun kejatuhan dahan di Kota Bengawan.

Hal itu ditegaskan Kepala DLH Solo, Sri Wardhani Poerbowidjojo, saat diwawancarai Solopos.com terkait kejadian mobil ringsek tertimpa pohon di pelataran parkir Benteng Vastenburg, Selasa (13/11/2018).

Dhani, sapaan akrabnya, mengatakan DLH hanya bisa melakukan upaya antisipasi pohon tumbang agar tidak membahayakan atau pun merugikan masyarakat.

"Mengenai kompensasi, kami tidak ada anggarannya. Dilema memang, namanya bencana. Yang bisa kami lakukan hanya berusaha melakukan antisipasi pohon rawan tumbang tidak sampai mencelakaan hingga merugikan masyarakat," kata Dhani saat ditemui Solopos.com di kantor DLH, Rabu.

Dhani membeberkan beberapa upaya yang telah dilakukan DLH guna mengantisipasi pohon tumbang, antara lain memangkas dahan yang terlalu lebat hingga menebang pohon-pohon rawan roboh.

Dia mengatakan petugas DLH kini dalam proses pendataan kondisi pohon di Kota Solo. Dhani menyebut petugas diperbolehkan menebang pohon yang dinilai telah masuk kategori rawan tumbang atau telah lapuk.

"Saya sudah minta kepada para mandor petugas taman untuk menginventarisasi pohon mana saja yang kini rawan tumbang. Datanya belum terkumpul. Yang jelas, kalau ada yang melihat pohon membahayakan keselamatan orang banyak, silakan dipotong. Petugas kemudian wajib menyusun berita acara. Sebelum ditebang, pohon lebih dulu difoto. Petugas tidak boleh sembarangan menebang pohon," jelas Dhani.

Dhani tidak menampik asuransi pohon bisa menjadi jalan keluar untuk memberikan kompensasi kepada masyarakat yang menjadi korban pohon tumbang. Namun, dia menilai program asuransi pohon sulit diimplementasikan.

Dhani berpendapat program tersebut kurang efisien. DLH secara otomatis mesti menyiapkan anggaran besar untuk membayar premi asuransi setiap pohon di Kota Bengawan yang jumlahnya ribuan.

"Kok agak sulit ya untuk asuransi pohon karena harus menyasar seluruh pohon. Jika hanya sebagian atau menunjuk pohon mana saja yang harus diasuransikan, bisa jadi pohon B yang tidak diasuransukan malah yang ngebruki [menimpa] kendaraan atau orang," terang Dhani.

Kabid Pengendalian dan Pengelolaan Lingkungan DLH Solo, Luluk Nurhayati, menyebut DLH tak memiliki anggaran untuk mengganti kerugian masyarakat yang disebabkan tumbangnya pohon atau jatuhnya dahan pohon di Kota Solo.

Dia hanya bisa mengimbau masyarakat mencari jarak aman dengan pohon, terutama saat terjadi hujan disertai angin jika ingin terhindar dari bahaya maupun kerugian akibat pohon tumbang.

Luluk mengatakan DLH selama ini terus berubaya mengeliminasi pohon rawan tumbang untuk kemudian diganti dengan pohon baru.

"Kami tidak ada anggaran kompensasi. Soal asuransi, kami jujur bingung, yang mau diasuransikan apanya? Pohonnya atau korbannya? Solo kan punya banyak pohon. Karena keterbatasan dana, kami masak hanya mengasuransikan pohon di Jl. Slamet Riyadi? Pohon yang lain bagaimana? Jadi kalau kena pohon di Jl. Adi Soemarmo berarti tetap saja tidak bisa dapat kompensasikan?" jelas Luluk.

Sebelumnya diberitakan, mobil pengusaha muda Solo, Diaz Arjun Ardian, tertimpa pohon saat diparkir di halaman parkir Benteng Vastenburg, Selasa siang. Padahal saat itu tidak ada hujan atau pun angin.