Jembatan Jatingarang Sukoharjo Ambrol, Jalan Watukelir-Klaten Ditutup

Separuh badan Jembatan Dukuh Gaden, Desa Jatingarang, Weru, Sukoharjo, ambrol, Kamis (15/11 - 2018). (Istimewa/Muhammad Busro)
15 November 2018 10:40 WIB Trianto Heri Suryono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Rangka jembatan di Dukuh Gaden, Desa Jatingarang, Kecamatan Weru, Sukoharjo, ambrol dan hanyut terbawa arus sungai saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut, Rabu (14/11/2018) sore.

Akibatnya arus lalu lintas via jembatan tersebut ditutup. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Kamis (15/11/2018) pagi, warga sekitar sejak Rabu sore bekerja bakti menyingkirkan puing-puing bangunan jembatan dan mengalihkan arus lalu lintas hingga Rabu malam.

Jembatan itu ambrol Rabu sore sekitar jam 15.30 WIB. Seorang saksi, Didik Rusdiyanto, saat dihubungi Solopos.com mengatakan peristiwa ambrolnya rangka jembatan itu menjadi tontonan warga.

“Hujan kemarin [Rabu] lumayan deras. Jembatan sedang proses pengerjaan ambrol.”

Sementara itu, Kapolsek Weru AKP Muhammad Busro mewakili Kapolres Sukoharjo AKBP Iwan Saktiadi mengatakan langsung terjun ke lokasi bersama personel Polsek Weru begitu mendapat laporan dari warga, Rabu.

“Jembatan berlokasi di Dukuh Gaden, Desa Jatingarang, Kecamatan Weru. Panjang jembatan sekitar 10 meter dan lebar sekitar delapan meter. Rangka jembatan siap cor hanyut terbawa arus sungai,” katanya.

Dia menyatakan rangka jembatan yang hanyut berukuran panjang 10 meter dan lebar 4,5 meter. Jembatan tersebut menghubungkan antara Watukelir, Kecamatan Weru, dengan wilayah Cawas, Kabupaten Klaten.

Kapolsek mengungkapkan jembatan dibangun sejak Mei 2018. Pembangunan jembatan dilakukan dengan konsep separuh-separuh, artinya separuh dikerjakan sedangkan separuh lagi untuk jalan kendaraan.

“Banjir kemarin menyebabkan separuh jalan yang biasa dilalui kendaraan retak-retak di beberapa bagian dan tidak bisa dilalui.”

Menurutnya, rangka jembatan yang hanyut adalah rangka yang sudah dipersiapkan untuk pengecoran.

“Pengecoran belum dilakukan keburu dibawa arus sungai. Sementara waktu jembatan tersebut tidak bisa dilalui kendaraan. Arus kendaraan dialihkan ke jalan kampung. Kami mendapatkan informasi setiap hari hanya dipekerjakan tiga orang,” katanya.