Hujan Deras Rusak 200 Hektare Tanaman Padi di Sragen

Petani membajak kembali sawahnya yang rusak diterjang air hujan di Dukuh Grembyuk, Desa Brojol, Miri, Sragen, Kamis (15/11 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
16 November 2018 08:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Hujan deras disertai angin di wilayah Desa Brojol, Kecamatan Miri, Sragen, tidak hanya mengakibatkan tanggul embung Grembyuk ambrol tetapi juga merusak tanaman padi yang baru berumur kurang dari dua pekan.

Pemerintah Desa Brojol mencatat ada 200 hektare sawah yang terkena dampak hujan deras dan angin tersebut dengan kerugian petani diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.

Penjelasan itu disampaikan Kepala Desa Brojol, Kecamatan Miri, Sragen, Agus Tanto, saat ditemui wartawan di Kantor Desa Brojol, Miri, Sragen, Kamis (15/11/2018).

Agus menyampaikan air hujan itu seperti banjir bandang di areal persawahan yang merusak pematang dan tanggul saluran irigasi. Banyak tanaman padi yang habis tanam, kata dia, rusak dan habis terbawa arus atau tertutup lumpur.

“Petani rugi akibat musibah tersebut. Luas areal sawah yang terdampak ada 200 hektare dari total 230 hektare sawah di Brojol," jelas dia.

Selain itu, angin kencang juga menumbangkan sejumlah pohon di wilayah Brojol. Ada satu pohon yang menimpa rumah warga di Dukuh Purwosari, Brojol. Untungnya pohon yang tumbang itu hanya mengenai bagian bangunan kamar mandi.

Banyak petani yang memperbaiki pematang dan tanggung saluran irigasi. Beberapa petani terpaksa kembali membajak sawahnya menggunakan tenaga sapi sebelum ditanami lagi.

Sebelumnya, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen Sugeng Priyono mengumpulkan para sukarelawan tanggap bencana untuk menghadapi musim penghujan.

Puluhan sukarelawan dari 30 organisasi sukarelawan berkumpul di Posko BPBD Sragen pada Selasa (13/11/2018) malam. Mereka bersepakat untuk mewaspadai potensi bencana alam, khususnya banjir dan tanah longsor.

“Hasil pemetaan BPBD tentang daerah rawan banjir dan tanah longsor sudah disampaikan ke sukarelawan. Potensi sumber daya manusia sukarelawan sebanyak 1.400 orang yang nantikan kami sebar di 20 kecamatan. Mereka berasal dari SAR Himalawu, Tagana, FKPPI, Rapi, Orari, Poldes, Kerjo Penak, komunitas difabel, Kumpulang Wong Sragen, dan seterusnya,” ujar Sugeng saat berbincang dengan Solopos.com.

Sugeng menyampaikan sesuai masukan Forum Pengurangan Risiko Bencana Sragen, BPBD segera menyosialisasikan standar operasi prosedur dalam penanganan bencana alam. Prioritas penanganan korban bencana alam, kata dia, juga perlu disampaikan ke masyarakat agar memiliki pemahaman yang sama dalam penanganan bencana.

“Peristiwa yang terjadi pada bencana banjir 2007 jangan sampai terulang bila masyarakat bisa memahami prosedur penanganan korban bencana,” tambahnya.