Doa Belum Selesai, 2 Gunungan Grebeg Maulud Solo Dirayah Warga

Ribuan orang berebut gunungan Grebeg Maulud di Solo, Selasa (20/11 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
20 November 2018 13:40 WIB Ivan Andimuhtarom Solo Share :

Solopos.com, SOLO – Ribuan orang memadati halaman Masjid Agung Surakarta untuk menyaksikan langsung Grebeg Maulud, Selasa (20/11/2018) pagi. Pintu di gerbang utama masjid dijaga polisi dan satlinmas setempat. Di bagian dalam, warga berdiri sambil berjajar, membuka jalan untuk tempat jalan para abdi dalem yang membawa gunungan.

Gunungan akhirnya datang pukul 10.45 WIB. Rombongan diawali oleh tim drum band Keraton yang berpakaian hitam. Di belakangnya para prajurit berbaris rapi mulai dari prajurit berbaju hijau dan dilanjutkan prajurit berbaju biru. Di belakangnya, para abdi dalem membawa gamelan sambil dimainkan menuju aula sisi selatan. Rombongan kirab dilanjutkan oleh para abdi dalem perempuan dan laki-laki yang semuanya berpakaian hitam. Mereka lantas menuju serambi masjid.

Terdapat empat gunungan yang dibawa ke halaman masjid. Gunungan pertama, atau biasa disebut gunungan estri terdiri atas intip yang dibentuk bundar ditata rapi. Gunungan kedua adalah gunungan jalu atau jaler yang tersusun atas hasil bumi seperti terong, kacang panjang, wortel, cabai, dan mentimun. Gunungan ketiga adalah gunungan estri, dan keempat gunungan jaler.

Petugas keamanan menjaga ketat empat gunungan tersebut untuk menghalau pengunjung yang nekat ingin mengambil gunungan yang belum didoakan. Melalui pengeras suara, petugas sudah hal tersebut. Petugas juga mengingatkan agar anak-anak tidak masuk ke barisan karena khawatir bakal terinjak-injak warga.

Sebelum doa selesai dipanjatkan, dua gunungan yang ditempatkan di depan masjid sudah ramai diperebutkan masyarakat. Gunungan jaler habis saat doa selesai dipanjatkan ulama keraton. Sedang gunungan estri masih jadi rebutan warga. Beberapa orang memang naik ke gunungan setinggi kurang dari dua meter tersebut lalu mengambil kemudian melemparkannya ke segala arah.

Bahkan, bambu penyangga hiasan gunungan tak luput dari rebutan. Sepasang gunungan lainnya diarak kembali ke Keraton Surakarta Hadiningrat. Kedua gunungan itu jadi rebutan warga di depan Kori Kamandungan Keraton Surakarta Hadiningrat.

 Ribuan orang berebut gunungan di Grebeg Maulud Solo, Selasa (20/11/2018). (Solopos-Nicolous Irawan)

Grebeg Maulud ini merupakan lanjutan dari acara sekaten, yang telah dibuka pada pekan lalu dengan dikeluarkannya dua perangkat gamelan pusaka milik keraton yakni gamelan Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari ke komplek Masjid Agung Solo.

Ketua Pengurus Takmir Masjid Solo sekaligus Pengulu Tafsir Anom Keraton Surakarta, Muhammad Muhtarom, mengatakan grebeg adalah metode para wali untuk mendekatkan Islam kepada masyarakat Jawa. Menurutnya, para wali ingin orang Jawa menerima Islam dengan mudah.

“Makanya para wali membuat konsep membahasakan Alquran dalam budaya,” ujarnya saat diwawancara wartawan, Selasa.

Menurutnya, Grebeg Maulud adalah puncak kegiatan Sekaten yang diadakan oleh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Gunungan yang merupakan hajad dalem tersebut bermakna kehidupan terdiri dua jenis, laki-laki dan perempuan.

“Maka ada gunungan jalu, terdiri dari makanan mentah atau hasil bumi dan gunungan estri adalah bentuk makanan siap saji,” kata dia.

Ia mengatakan grebeg awalnya memang dilakukan untuk meringati kelahiran Nabi Muhammad. Tapi keraton kemudian juga membuat grebeg pada bulan puasa, dan idul adha. Tetapi pesan moral yang dibawa sama.

Lebih lanjut, gunungan yang menjadi rebutan warga adalah wujud terima kasih dan bersyukur keraton kepada Tuhan melalui pembagian hasil bumi kepada masyarakat. “Sebenarnya itu dibagikan,” tutupnya.