Konsep Mural Flyover Manahan Solo: dari Wayang Hingga Kereta Kencana

Seniman sedang membuat lukisan mural di dinding Flyover Manahan, Solo, Senin (19/11 - 2018) malam. (Solopos/Sunaryo Haryo Bayu)
20 November 2018 22:12 WIB Ivan Andimuhtarom Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Solo menyiapkan desain mural untuk mempercantik Flyover Manahan yang rencananya dibuka pada awal 2019. Mural pada dinding flyover menonjolkan warna-warna cerah dan beberapa tokoh wayang orang sebagai bagian dari kebudayaan Solo.

Dalam desain tersebut, dinding flyover dilukis dengan aneka warna mencolok seperti merah, kuning, hijau dengan pola-pola seperti kristal berwarna. Bagian terowongan di Jl. Hasanudin dan Jl. Sam Ratulangi juga bakal diberi mural.

Namun, bagian paling mencolok dari desain mural tersebut adalah tokoh-tokoh wayang orang yang ditampilkan di beberapa sisi. Gambar tokoh wayang perempuan bakal digambar di sisi selatan flyover arah Jl. Adisucipto. Di sebelahnya direncanakan terdapat gambar kereta kencana. Di dinding timur flyover arah Jl. MT. Haryono, rencananya akan dilukis tokoh wayang orang Gatotkaca dan satu tokoh lainnya.

Dalam penjelasan yang tercantum dalam akun Facebook Humas Protokol Pemkot Solo dijelaskan konsep visual mural adalah tentang kecepatan serta kelancaran arus. Hal itu digambarkan lewat citra komposisi garis dan bidang yang dipadu dengan ornamen dan citra ethnic power.

Mural itu dilengkapi keragaman warna yang berkesan modern serta futuristik. Elemen tersebut kemudian dipadu dengan objek dan figur-figur yang dapat menarasikan tema seni, budaya, dan olahraga. Konsep mural juga menyesuaikan dengan tema kawasan Manahan sebagai kawasan olahraga, budaya, dan kreativitas pemuda. Pendek kata, mural itu ingin menggambarkan identitas kota, yaitu Solo Masa Lalu adalah Solo Masa Depan.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Solo, Supriyanto, menilai desain mural pada Flyover Manahan memang bagus. Namun, menurutnya, jika hanya berupa gambar (mural) hiasan itu cenderung rawan pudar dan rusak. Apalagi, nomenklatur di APBD adalah ornamen.

"Itu kan anggaran APBD ada Rp2,5 miliar untuk ornamen. Lebih baik ornamen dari batu. Bentuknya bisa berupa batik, wayang, atau gamelan. Bisa pakai batu ukir. Bisa juga pakai desain batu candi atau andesit," kata dia, Selasa.