Rencana Mendikbud Soal Guru Mengajar 2 Mapel Dinilai Tak Tepat

ilustrasi guru mengajar. (Solopos/Dok)
23 November 2018 18:55 WIB Insetyonoto Solo Share :

Solopos.com, SOLO – Pengamat pendidikan dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, M. Furqon Hidayatulah, menilai rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy yang mewajibkan para guru mengajar minimal dua mata pelajaran (mapel) serumpun tidak tepat.

Kondisi tersebut, menurut dia, akan merepotkan guru bersangkutan sehingga tidak konsentrasi mengajar. “Idealnya satu guru mengajar satu mata pelajaran agar bisa konsentrasi,” kata dia saat dihubungi Solopos.com di Solo, Jumat (23/11/2018).

Apabila Mendikbud nantinya tetap memaksa penerapan kebijakan satu guru mengajar dua mata pelajaran serumpun, Furqon berharap sifatnya sementara. “Jangan seterusnya karena akan merepotkan guru,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Solo Sugiaryo menilai gagasan Mendikbud mewajibkan setiap guru mengajar minimal dua mata pelajaran serumpun bagus. Hanya, menurut Sugiaryo, akan menjadi masalah apabila guru tidak memiliki kompetensi mengajar mapel rumpun kedua.

“Perlu ada persiapan matang bila Kemendikbud akan memberlakukan kebijakan guru mengajar minimal dua mata pelajaran serumpun,” katanya saat dihubungi Solopos.com di Solo, Kamis (22/11/2018).

Menurut Sugiaryo, perlu pendikan dan pelatihan kepada guru agar dapat mengajar mata pelajaran rumpun kedua. Selain itu, Kemendikbud diminta berkoordinasi dengan Lembaga Pedidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) agar menyiapkan kurikulum bagi calon guru agar bisa menguasai dua mata pelajaran serumpun.

LPTK pernah menerapkan kurikulum mata pelajaran mayor dan minor yang masih serumpun. “Waktu kuliah S1 dulu, saya mengalami perkuliah mayor dan minor. Namun, tak pernah diterapkan setelah lulus,” ungkap dosen FKIP Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo tersebut.

Sugiaryo menambahkan tak masalah apabila kebijakan Mendikbud diberlakukan. “Kebijakan guru mengajar dua mata pelajaran serumpun bukan untuk menekan sumber daya manusia [SDM] guru,” ujar dia.

Guru bahasa Indonesia SMP Muhammadiyah 5 Solo Budi Santoso menyatakan tidak masalah apabila nantinya harus mengajar dua mata pelajaran. “Rencana Mendikbud bagus karena dapat mengatasi guru yang kekurangan jam mengajar di sekolah,” ujar dia.

Dia menilai harus ada pendikan dan pelatihan (diklat) dulu kepada para guru agar bisa mengajar mata pelajaran minor atau yang kedua. “Pada dasarnya guru sudah memiliki dasar mata pelajaran minor sehingga lebih mudah. Seperti saya, selain bahasa Indonesia juga menguasai dasar bahasa Jawa,” kata Budi.

Senada diungkapkan guru Biologi SMP Lazuardi Kamila GIZ Solo, Aprilia Dita. Dia mengatakan perlu adanya diklat untuk melaksanakan rencana Mendikbud. “Saya mendukung rencana Mendikbud, satu guru mengajar dua mata pelajaran serumpun. Tapi, perlu ada diklat dulu,” ujar perempuan berhijab ini.

Mendikbud berencana mewajibkan setiap guru mengajar minimal dua mata pelajaran serumpun. Menurut Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kemendikbud, Suprianto, guru nantinya mengajar minimal dua mata pelajaran serumpun seperti Sosiologi dengan Antropologi.