Begini Akhir Hidup Kusumo, Lovebird Seharga Miliaran Rupiah

Lovebird Kusumo semasa hidup.
23 November 2018 19:45 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Nama Kusumo tentu tak asing bagi para penggemar burung berkicau atau kicau mania. Burung jenis lovebird itu disebut-sebut sebagai legenda burung berkicau lantaran ratusan kejuaraan yang dimenangkan. Tak hanya itu, burung peliharaan Sigit Marwanto yang akrab disapa Sigit Wmp tersebut pernah ditawar hingga Rp2 miliar. Namun, burung legendaris tersebut mati pada Senin (19/11/2018) lalu.

Sigit yang merupakan warga Desa Jambakan, Kecamatan Bayat, Klaten itu memelihara Kusumo setelah membeli di salah satu pasar burung di Klaten pada 2013. Kusumo saat itu berumur sekitar empat bulan. “Saat itu harga lovebird masih mahal. Kalau tidak salah kisaran Rp3,5 juta,” kata Sigit saat dihubungi Solopos.com, Jumat (23/11/2018).

Setelah beberapa bulan dirawat, Kusumo diikutkan pada event gantangan atau lomba kicau burung di Sragen Desember 2013. Pada lomba perdananya, Kusumo mampu meraih juara II sebanyak dua kali. Sempat mengalami mabung atau bulu-bulunya rontok hingga enam bulan berselang dari gantangan di Sragen, Kusumo kembali diikutkan lomba burung berkicau. “Mulai 2014 itu gayeng,” katanya.

Satiap pekan, Kusumo menjuarai berbagai gantangan. Terbanyak, dalam satu kejuaraan, Kusumo bisa meraih tujuh juara I. Kusumo terhitung sudah menjuarai hingga 400 kejuaraan burung berkicau. “Dari teman-teman yang menghitung, untuk event nasional itu juara I yang diraih kusumo hampir 400 event. Itu untuk juara I saja,” urai dia.

Nama Kusumo kian moncer. Penawaran untuk membeli Kusumo datang dari berbagai penggemar burung. Burung tersebut pernah ditawar hingga Rp2 miliar pada 2017 lalu. “Ditawari [mobil] Alphard dan Rubicon ditambah uang kalau ditotal Rp2 miliar,” ungkapnya.

Tak hanya orang Indonesia, Sigit pernah mendapat tawaran orang Amerika Serikat guna melepas Kusumo. Nilai uang yang ditawarkan pun tak sedikit, mencapai 250.000 US Dollar atau jika dirupiahkan sekitar Rp3,6 miliar. Namun, Sigit tak tergiur untuk melepas Kusumo. “Kenapa enggak tak lepas? Pertama yang ngasih nama anakku. Kedua, diminta teman-teman dijadikan ikon. Yang utama tidak tak lepas karena kedekatanku. Sebenarnya nilai penawaran wow, tetapi rasa senang itu tidak bisa dinilai. Karena niat awal itu buat menaikkan lovebird khususnya karena harganya sempat anjlok,” urai dia.

Salah satu keistimewaan Kusumo yakni memiliki durasi ngekek atau kicauan yang panjang. Kicauan Kusumo rata-rata berdurasi 2 menit 50 detik untuk sekali ngekek. Pada salah satu event gantangan di Jakarta, Kusumo pernah berkicau sekitar 258 detik atau 4 menit 18 detik sekali ngekek.

Sigit mengaku tak memiliki perawatan khusus hingga Kusumo menjadi primadona. “Yang penting itu senang, ikhlas, sabar, tahu karakter burung, dan tahu asal-usul habitat burung. Dirawat secara alami saja tidak pakai obat-obatan. Seperti diberikan bayam biar segar, ginseng buat stamina, sarang burung walet juga buat stamina. Kusumo tidak pernah diberi doping. Kalau pakai doping tidak bakalan 3,5 tahun setiap pekan berturut-turut mau bunyi,” jelas dia.

Namun, burung yang disebut-sebut legenda tersebut mati pada Senin (19/11) lalu. Sigit mengatakan kematian Kusumo bukan lantaran virus atau penyakit. “Sebenarnya masih sehat. Pagi dimandikan seperti biasa hingga kering kemudian [sangkarnya] ditaruh di bawah di sampingku di pendapa. Sekitar pukul 13.00 WIB itu, Kusumo tahu-tahu turun ingin keluar. Kemudian pintunya tak buka, Kusumo turun ke telapak tanganku dan tiduran kemudian bablas [mati],” jelas dia.

Sigit menjelaskan beberapa bulan terakhir Kusumo tak diikutkan dalam kejuaraan lomba burung berkicau. “Sudah lama tidak ikut. Hanya sepekan sebelum mati, saya pisah dengan jantannya,“ urai dia.

Matinya burung legenda itu membuat Sigit kebanjiran pertanyaan. Ia membuat video yang diunggah melalui Youtube menginformasikan kematian Kusumo. Terkait matinya Kusumo, Sigit berharap para kicau mania tak kendur menggelar gantangan. “Gantangan itu menjadi salah satu pembinaan kepada penangkar. Jangan kendur. Itu menjadi salah satu tempat silaturahmi. Walau Kusumo sudah tidak ada, saya tidak akan berhenti di perburungan. Insya Allah akan memunculkan Kusumo lainnya,” kata Sigit.