Sudah 24 Kambing Jatiyoso Jadi Korban, Begini Upaya Warga Menghalau Macan Gunung Lawu

Anggota polisi, warga, dan petugas Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar saat mengecek hewan ternak, Kamis (22/11/2018). (Istimewa - Polres Karanganyar
23 November 2018 13:30 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR - Kapolsek Jatiyoso, Karanganyar, Iptu Subarkah, memberikan keterangan terkait serangan macan Gunung Lawu yang menerkam hewan ternak milik warga Desa Gondang, Wonorejo, Jatiyoso, Karanganyar.

Subarkah menyebutkan macan menyerang kambing warga tanpa memakan dagingnya. "Ada anak kambing yang diserang. Itu bekas gigitannya tembus dari sisi leher yang satu ke sisi leher lainnya. Ada yang kepala hilang, dimangsa sebagian kepala. Lainnya hanya digigit pada leher atau dimatikan saja," kata Kapolsek saat berbincang dengan wartawan, Jumat (23/11/2018).

Total sudah ada 24 ekor kambing di Jatiyoso yang dimangsa macan. Sebelumnya, empat ekor macan menyerang kambing di Desa Sepanjang, Tawangmangu. Sebanyak 14 ekor kambing mati dibantai macan pada Kamis (22/11/2018) dini hari. Beberapa saat kemudian, macan kembali beraksi menerkam enam ekor kambing di lokasi berbeda.

Kondisi 14 ekor kambing yang diterkam macan pada Kamis malam berbeda-beda. Satu ekor kambing hanya dimangsa bagian kepala. Satu ekor lainnya sebagian kepala habis. Sisanya hanya diterkam pada bagian leher. Macan tidak menyerang bagian tubuh lainnya.

Kepala Desa Wonorejo, Sudrajat, menceritakan jarak kandang antara satu dengan lainnya adalah 50 meter-100 meter. Jarak lokasi pertama dengan lokasi kejadian berikutnya sekitar satu kilometer tetapi masih satu dusun yakni Gondang. Rata-rata warga memiliki 4-11 ekor kambing. Macan tidak memangsa kambing di luar kandang.

Sudrajat dan Kapolsek menduga macan masuk ke permukiman karena habitat mereka terganggu atau rusak serta semakin sedikitnya mangsa yang bisa mereka makan.

"Prediksi saya penyebab macan masuk ke permukiman karena habitat terganggu atau rusak, semakin minim hewan yang dimangsa atau buruan dia, karena pembukaan lahan baru. Babi turun gunung untuk memangsa sayur milik warga. Babi hutan turun artinya buruan di dalam hutan kosong. Macan ikut turun ke permukiman. Jadi tidak dimakan, tidak dihabiskan. Ada yang dimakan habis kepalanya," ujar Iptu Subarkah.

Kades Wonorejo dan warga berinisiatif menempatkan sisa kambing milik warga di sekitar lokasi kejadian. Solopos.com mendapat informasi dari warga, masih ada sekitar 22 ekor kambing yang belum dimangsa macan.

Warga bermaksud mengumpulkan 22 ekor kambing pada satu kandang kosong milik warga lain. Langkah itu dilakukan supaya siskamling terpusat.

"Jadi ceritanya Kamis malam kami (anggota polsek, warga, dan perangkat desa), siskamling. Saat patroli di atas, aman. Begitu kami turun, macan menyerang bagian atas yang kami patroli. Nah ini kami inisiatif untuk memasukkan kambing pada satu kandang komunal. Supaya warga gampang saat patroli dan menjaga kambing," ujar Sudrajat