Terkam Puluhan Kambing, Ada Pesan di Balik Turunnya Macan Gunung Lawu

Anggota polisi, warga, dan petugas Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar saat mengecek hewan ternak, Kamis (22/11/2018). (Istimewa - Polres Karanganyar
23 November 2018 20:35 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Sudah ada 24 ekor kambing di Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar, diterkam macan. Mengerikan memang, namun fenomena langka turunnya macan dari hutan Gunung Lawu ke kawasan permukiman itu dinilai memiliki pesan bagi warga setempat.

Apalagi dalam kasus terakhir di kandang kambing milik Sayem, di Dusun Gondangtelan, RT 002/RW 006, Desa Wonorejo, macan hanya menggigit leher dan tidak memakan daging kambing. Macan itu hanya meninggalkan kambing yang telah diterkam.

Merespons fenomena macan turun gunung, Kepala Desa Wonorejo, Jatiyoso, Sudrajat, dan warganya berinisiatif mengumpulkan kambing di satu lokasi atau kandang. Langkah itu dilakukan untuk mempermudah pengawasan. Sudrajat menyampaikan warga lebih rajin melakukan siskamling sejak kejadian macan turun gunung.

Bahkan saat kejadian kali terakhir, mereka sedang melakukan siskamling tidak jauh dari rumah Sayem, pemilik kambing yang diterkam macan. Saat mereka melanjutkan siskamling ke wilayah bawah, macan menerkam kambing Sayem.

"Kami motivasi warga meningkatkan keamanan agar tidak resah. Ternak dikumpulkan satu kandang untuk mempermudah pengawasan. Hanya kambing yang diterkam. Sapi banyak tetapi ditinggalkan. Siskamling akan dilakukan tersebar dan di tempat strategis. Selain itu kami akan membuat long bumbung dan dibunyikan. Itu untuk menghalau macan agar tidak masuk kampung," tutur Sudrajat saat berbincang dengan wartawan, Jumat (23/11/2018).

Sudrajat menyampaikan ada pesan moral dari kejadian tersebut. Salah satu dasarnya adalah macan tidak memangsa semua kambing atau hanya menerkam hingga mati. Dia menduga macan di hutan Gunung Lawu itu terusik karena kebakaran, pemburu, dan pembukaan lahan. Oleh karena itu dia meminta kerja sama warga untuk ikut menjaga alam.

"Soal pemburu, kami sudah sosialisasi boleh berburu tapi yang tidak dilindungi, misal babi hutan dan lain-lain. Tetapi melihat kejadian ini maka kami melarang perburuan dalam bentuk apapun. Warga yang melihat ada pemburu masuk silakan melapor ke desa atau polisi," ujar dia.

Terakhir, macan Gunung Lawu turun gunung dan menyerang enam ekor kambing milik warga di lereng Lawu pada Kamis (22/11/2018) malam pukul 23.30 WIB. Enam dari total tujuh ekor kambing milik Sayem diterkam macan.

"Mireng 'kluthek' [dengar suara] teng wingking [di belakang/dapur]. Kewan niku nembe nguweki mendo [hewan itu lagi menerkam kambing]. Dengak-dengak macan teng nduwure mendo [macan menerkam dan mengoyak kambing]. Ajeng kula tomprang [mau saya gebuk], macane iber [macan lari]. Macane sak mendo radi ageng [macan sebesar kambing agak lebih besar]. Totol-totol. Kula mbengok 'laeeee tulungono' pas macane iber [saya teriak minta tolong setelah macan lari]," cerita Sayem sembari sesenggukan, Jumat.

Lima dari enam kambing yang diterkam mati sedangkan satu ekor kambing sekarat. Warga berinisiatif membeli kambing sekarat dan disembelih. Warga berpatungan dan membayar Sayem Rp400.000 untuk seekor kambing.