PT RUM Sukoharjo Akan Pasang Panel Hasil Gas Buang

Ketua Prodi S3 Teknik Kimia UGM, Sarto (dua kiri) didampingi Ketua Tim peneliti Teknik Kimia UGM, Prof Wahyudi (dua kanan) berbincang dengan Pegawai PT RUM, Haryo (kanan) dan Sekretaris PT Rayon Utama Makmur (RUM), Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Bintoro Dibyo Seputro (kiri) di lokasi wet scrubber, Jumat (23/11 - 2018). (Solopos/Trianto Hery S)
24 November 2018 12:00 WIB Trianto Heri Suryono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO – PT Rayon Utama Makmur akan memasang panel berisi informasi kandungan gas buang di depan pabrik. Panel tersebut bisa dilihat oleh masyarakat karena akan ditempatkan di dekat Kantor Satpam PT RUM. Pemasangan panel hasil dari Continuous Emission Monitoring System (CEMS) itu sebagai wujud transparansi dan keinginan PT RUM untuk menghilangkan bau yang dikeluhkan masyarakat hingga sekarang.

Manajemen PT RUM, Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Sukoharjo juga meminta maaf atas ketidaknyaman masyarakat selama ini. Pernyataan itu disampaikan juru bicara dan Sekretaris PT Rayon Utama Makmur (RUM), Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Bintoro Dibyo Seputro, Jumat (23/11/2018) seusai bertemu dengan Prof Wahyudi, Ketua Tim peneliti Teknik Kimia UGM dan Dr Sarto, Ketua Prodi S3 Teknik Kimia UGM di pabrik.

“Kami langsung komunikasi dengan manajemen dan usulan Prof Wahyudi [memasang panel CEMS] disetujui. Dalam waktu dekat panel hasil pemantauan gas buang akan dipasang sehingga masyarakat bisa melihat secara langsung,” ujar Bintoro.

Bintoro mengatakan hasil gas buang itu terpantau langsung ke Kantor Kementerian Lingkungan Hidup secara online. Dia mencontohkan hasil pemantauan gas buang atau kadar H2S dari CEMS tercatat 20.103 ppm sehingga emisi gas H2S seberat 0,69 kg/ton sedangkan baku jutu gas H2S seberat 30 kg/ton.

“Namun masih bau dan dikeluhkan oleh masyarakat sampai sekarang. Kami komitmen untuk menghilangkan bau tersebut walau upaya yang dilakukan PT RUM dengan memasang wet scrubber mendapatkan apresiasi dari perusahaan-perusahaan di Indonesia,” katanya.

Lebih lanjut Bintoro, menegaskan komitmen dan transparansi merupakan formula eksak yang tidak akan ditambah dan tidak dikurangi. Pada bagian lain, Bintoro, mengatakan akan membuat pabrik tersendiri untuk mengolah H2S menjadi H2SO4. “Selama ini, H2S dibuang ke Jawa Barat. Kedatangan tim peneliti UGM dimaksudkan untuk membuat konsep dan formula menghilangkan bau yang masih muncul dan sistem pengolahan H2S menjadi H2SO4," kata Bintoro.

Dia menegaskan PT RUM tidak akan berhenti untuk menyempurnakan pengelolaan lingkungan. Diakuinya Kamis malam dirinya mendapatkan informasi masyarakat tentang bau.

Ketua Tim peneliti Teknik Kimia UGM, Wahyudi, menyatakan wet scrubber merupakan alat pembuang bau atau H2S. “Harapannya dengan tiga tabung penangkap H2S, bau tidak muncul. Kalau bersih 100% tidak bisa karena ada batas maksimal limbah yang dinamakan ambang batas. Jadi asal mau menangani maka bau berkurang,” kata Wahyudi.

Wahyudi menyatakan dampak H2S pada sebuah logam adalah korosi atau pengkaratan. Sedangkan Sarto mengusulkan agar hasil cek gas buang dipasang untuk umum. Menurutnya, pemasangan tiga tabung wet scrubber sudah memenuhi syarat mengatasi gas buang.