BPBD Prediksi Puncak Musim Penghujan di Sukoharjo Terjadi Januari

Potensi hujan di wilayah Indonesia. (bmkg.go.id).jpg
08 Desember 2018 18:00 WIB Trianto Heri Suryono Klaten Share :

Solopos.com, SUKOHARJO – Hujan belakangan ini belum merata sehingga Kecamatan Weru masih membutuhkan dropping air bersih. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo memprediksi puncak musim penghujan pada Januari 2019. Potensi bencana alam di Kabupaten Makmur di antaranya banjir, tanah longsor, dan angin kencang serta kekeringan.

Pernyataan itu disampaikan Kepala BPBD Sukoharjo, Sri Maryanto, Sabtu (8/12/2018). Menurutnya, air hujan belakangan ini belum mengisi sumur-sumur warga di daerah kekeringan. “Sampai sekarang [Desember] masih dropping air di Weru. Meski hujan sudah turun tetapi wilayah selatan [Weru] belum hujan sehingga air belum masuk ke sumur. Air hujan baru di permukaan. Data BMKG, puncak hujan terjadi Januari,” kata Maryanto.

Maryanto menjelaskan ada delapan desa di Kecamatan Weru masuk peta kekeringan ditambah satu desa di Kecamatan Tawangsari, yaitu Desa Watubonang. Menurutnya, dropping air di Kecamatan Weru lebih mudah karena air ditampung di bak penampungan dibanding di Watubonang. “Di Watubonang, air dropping kadang dimasukkan ke sumur atau langsung ke ember atau jeriken milik warga. Hingga awal Juli lalu sudah tercatat 820 tangkir air bersih dikirim,” katanya.

Menurutnya, dampak bencana kekeringan tak sekadar kekurangan air minum tetapi juga sektor pangan seperti pertanian kering, perikanan dan peternakan. “Baik musim penghujan maupun musim kemarau, BPBD selalu siap personel dan siap logistik. Masyarakat tanggap dan tangguh menghadapi bencana disiapkan. Selama ini, penanganan bencana alam sudah bersinergi dengan relawan, lintas sektoral dan masyarakat. Di Sukoharjo bencana alam yang berpotensi adalah banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung. Tiga bencana alam itu perlu kesigapan masyarakat.”

Polres Sukoharjo bekerja sama dengan ormas yang memiliki tim SAR telah melakukan simulasi penanggulangan bencana alam, air dan darat secara bersama di Waduk Mulur, Kecamatan Bendosari, Jumat.

Diberitakan sebelumnya, Kasat Sabhara Polres Sukoharjo, AKP Thourakhman mewakili Kapolres Sukoharjo, AKBP Iwan Saktiadi, mengatakan latihan bersama diharapkan ada kesamaan dalam bertindak di antara anggota Polri, TNI dan organisasi kemasyarakat di Sukoharjo saat terjadi bencana alam.

“Latihan dan peningkatan skill anggota [polres] sebagai upaya antisipasi terhadap peristiwa bencana alam banjir, tanah longsor dan sebagainya. Pasca latihan ada kesamaan tindak penanggulangan bencana alam bagi anggota TNI, Polri maupun ormas lain,” kata Iwan Saktiadi.

Sekda Sukoharjo, Agus Santoso, menjelaskan Pemkab Sukoharjo di tahun 2019 telah mengalokasikan anggaran tak terduga senilai Rp15 miliar. Dana tersebut bisa digunakan untuk menghadapi kerawanan bencana alam. “Alokasi anggaran naik 50% dibanding tahun lalu senilai Rp10 miliar,” jelasnya.