Serbuan Ulat Jati Paksa Satu Keluarga di Wonogiri Mengungsi

Ulat memenuhi pagar dan dinding rumah warga di Dusun Bauresan, RT 004/RW 002, Kelurahan Giritirto, Wonogiri, Selasa (11/12 - 2018). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
12 Desember 2018 07:15 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI — Pertumbuhan ulat jati di sejumlah desa di Kabupaten Wonogiri meluas hingga ke rumah warga dan mengakibatkan aktivitas warga terganggu. Satu keluarga Desa Sendang, Wonogiri, terpaksa mengungai karena ulat jati masuk seluruh ruangan di rumah.

Salah satu warga, Setyo Rohadi, warga Dusun Bauresan RT 004/RW 002, Kelurahan Giritirto, Wonogiri, mengatakan pertumbuhan ulat jati makin banyak sejak sekitar lima hari lalu. Ulat tidak mengakibatkan gatal-gatal. Kendati demikian, populasinya yang besar membuat aktivitas warga terganggu.

“Pertumbuhannya pesat karena di sekitar rumah banyak pohon jati. Ulat terbawa angin hingga merayap masuk ke dalam rumah,” ujar dia, saat ditemui wartawan di rumahnya, Selasa (11/12/2018).

Di rumah, ulat bisa ditemui di dinding, ruang tamu, dapur, kamar, hingga meja makan. Ia pun kerap membersihkan ulat namun selalu datang lagi.

Warga pun kini enggan membuka jendela dan pintu rumah. “Saat pagi, ulatnya banyak sekali. Sedangkan semakin siang atau panas, ulatnya berkurang,” imbuh Rohadi.

Hal senada juga disampaikan Mukiyem, tetangga Rohadi. Di dalam rumah, ulat bahkan mendekat ke meja makan. Semakin sering disapu, ia merasa ulat justru bertambah. “Apalagi di rumah ada anak kecil. Jadi takut ulat. Yang bisa saya lakukan hanya menyapu supaya tak menyebar ke mana-mana,” tutur dia.

Di Desa Sendang, Wonogiri, pertumbuhan ulat memaksa Sukarni mengungsi ke rumah ibunya berjarak 30 menit dari rumahnya di Dusun Legong. Ia memutuskan mengungsi sejak tiga hari lalu lantaran rumah dan seluruh ruangan dipenuhi ulat.

“Semula saya pulang kerja sore hari. Di atap rumah banyak ulat. Saya masuk ke rumah ulat juga ada di kamar mandi, kamar tidur, ruang tamu, dapur, semuanya. Saya enggak berani pulang. Saya memilih mengungsi ke tempat ibu di Gondang Legi,” tutur Sukarni.

Ia mengungsi bersama dua putra dan suaminya. Akibatnya, aktivitas sehari-harinya terganggu. Ia tak bisa masuk rumah untuk ganti baju, mencuci, memasak, dan lainnya. Ia berusaha membersihkan ulat, namun upaya dirasa membikin ulat makin banyak.

“Saya berharap ada solusi untuk mengusir ulat-ulat ini dari rumah,” beber dia. 

Sukarni menuturkan pertumbuhan ulat jati lazim saban tahun terjadi. Namun, kali ini populasinya bertambah sangat banyak. Tak hanya itu, biasanya ulat bulu muncul saat musim hujan. Ia akan jatuh ke tanah dan menjadi kepompong. Kali ini, hujan belum turun, ulat itu bahkan terbang terbawa angin dan sampai ke rumah warga.

“Keberadaan ulat jelas sangat menganggu aktivitas sehari-hari. Saya harus bangun jam 02.00 sebelum berangkat berjualan sayur keliling dari rumah ibu,” tutur Sukarni.