Sudah Mencoba Jajan di Kafe Kopi Sawah Klaten?

Warga melintas di Kafe Kopi Sawah yang menjadi salah satu unit usaha BUM Desa Bodronoyo, Desa Jomboran, Klaten, Jumat (14/12/2018).(Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
14 Desember 2018 20:30 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Gazebo aneka ukuran dan bentuk mengisi ruang di tepi taman. Kursi berbahan ban karet menghiasi ruang di tengah taman. Lampu-lampu hias menggantung di atasnya. Pagar dan gapura bambu menghiasi bagian depan taman. Pada gapura tertulis Kafe Kopi Sawah.

Kafe berkonsep taman tersebut berada tak jauh dari kantor Desa Jomboran, Kecamatan Klaten Tengah. Kafe tersebut menjadi salah satu unit usaha Badan Usaha Milik (BUM) Desa Bodronoyo, Desa Jomboran, Klaten.

Kami namakan Kafe Kopi Sawah karena memang lokasinya berada di tepi sawah. Suasananya nyaman dan asri,” kata Kepala Desa Jomboran, Agung Widodo, saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (14/12/2018).

Kafe itu buka mulai pukul 16.00 WIB hingga 22.00 WIB. Sesuai pengumuman yang ada di depan kafe, saban Selasa libur atau tutup. Selain kopi, kafe tersebut menyajikan aneka kuliner seperti bakmi goreng/godok serta ayam dan bebek goreng. “Pramusaji ada tujuh orang dan bagian dapur ada lima orang. Semuanya warga Jomboran,” jelas Agung.

Kafe tersebut mulai beroperasi sekitar sebulan terakhir. Rata-rata pendapatan yang diperoleh BUM desa dari pengelolaan kafe yakni Rp2,5 juta per hari. Agung mencatat kafe pernah memperoleh pendapatan tertinggi Rp4 juta dalam sehari.

Pengembangan kafe berkonsep dilakukan pemerintah desa setempat setelah rencana pengembangan taman daur ulang sampah dinilai sulit direalisasikan. Beberapa tahun lalu, pemerintah desa setempat sempat bekerja sama dengan UNS dan membikin konsep Jomboran Recycle Park (JRP). Ide awal pembangunan taman dengan memanfaatkan barang bekas.

Kami aplikasikan di lapangan ternyata masih sulit. Akhirnya untuk sementara kami tetap membuat taman. Kalau sekadar taman tentu biaya operasionalnya tinggi. Agar biaya operasional itu tidak mengambil dari desa, akhirnya muncul ide mengembangkan Kafe Kopi Sawah,” kata Agung.

Pembangunan taman diawali dengan penanaman pohon di lahan kas desa setempat seluasa 1 ha pada 2016. Pembangunan taman berlanjut pada 2017 dan 2018. Pembangunan memanfaatkan dana bantuan dari APBD Klaten serta dana desa dengan total sekitar Rp370 juta.

Kafe berkonsep taman bakal terus dikembangkan. Rencananya, pemerintah desa setempat mengalokasikan dana untuk pembuatan gapura serta joglo. Pendirian joglo itu dimaksudkan untuk menggaet lebih banyak lagi pengunjung. “Target kami ada kegiatan di siang hari. Untuk sementara aktivitas di kafe masih saat malam. Kami membidik pasar yang lebih luas lagi,” ungkapnya.

Agung mengatakan pengembangan taman tersebut diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan warga Jomboran. Selain itu, dari pengembangan kafe mampu mendongkrak pendapatan asli desa. “Yang penting untuk jangka pendek dulu terpenuhi yakni pembiayaan perawatan taman tidak lagi tergantung dari desa namun mulai bisa dipenuhi dari pendapatan kafe,” urai dia.