Ini Khasiat Chloten alias Chlorella Klaten

Ilustrasi Pupuk (Solopos - Whisnupaksa)
16 Desember 2018 15:10 WIB Ponco Suseno Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN –Petani di Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, berkomitmen mengurangi penggunaan pupuk kimia di areal pertanian desa. Mereka bersiap menggunakan pupuk organik berbahan dasar lumut alias mikro alga.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, Jumat (14/12/2018), pengembangan pupuk organik cair berbahan dasar lumut itu mulai dikembangkan dalam beberapa bulan terakhir. Pengembangan pupuk organik berbahan dasar lumut itu dikembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) Sinergi.

Semula, BUM Desa mengembangkan lumut tersebut dengan membeli bibit lumut di Cilacap sebanyak 10 liter. Saat ini, pengembangan pupuk organik yang dipusatkan di lahan tanah kas desa sudah tersedia 40.000 liter pupuk organik.

Pupuk organik ini dinamakan Chloten. Kepanjangan dari Chlorella Klaten. Kami menyadari, ketergantungan petani era sekarang terhadap pupuk kimia sulit dicegah. Padahal, penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus mengakibatkan keasaman tanah tinggi. Kami berusaha mengurangi ketergantungan tersebut dengan mengandalkan pupuk ini,” kata Komisaris Utama BUM Desa Sinergi Sidowayah, Hapsoro, saat ditemui Solopos.com, di desanya, Jumat.

Hapsoro mengatakan luas areal pertanian di Sidowayah mencapai 183 hektare. Jumlah penduduk di Sidowayah berkisar 3.500 jiwa. Sebagian besar penduduk di desa tersebut bekerja sebagai petani. “Pupuk ini sudah diuji coba di lahan pertanian warga. Lahan seluas 3.300 meter persegi cukup menggunakan dua botol atau dua liter Chloten. Penggunaan pupuk kimia tetap dilakukan meski skalanya berkurang juga. Kami biasa menggunakan 200 kilogram pupuk kimia, menjadi 150 kilogram saja. Dari sisi operasional, biaya juga lebih irit,” katanya.

Disinggung tentang hasil yang diperoleh dengan menggunakan pupuk organik berbahan dasar lumut, Hapsoro mengatakan hasil panen lebih memuaskan. Begitu menggunakan pupuk organik berbahan dasar lumut, produksi tanaman padi meningkat dari 2,1 ton menjadi 2,6 ton per 3.300 meter persegi. “Pengembangan pupuk organik ini menjadi salah satu unit dari BUM Desa,” katanya.

Direktur PT Algaepark Indonesia Mandiri, Rangga W. Aji, mengatakan pengembangan pupuk organik berbahan dasar lumut ini bertujuan mengembangkan kesejahteraan petani di kawasan Sidowayah dan sekitarnya.

Pupuk ini berfungsi juga menetralisasi keasaman tanah akibat penggunaan pupuk kimiawi. Dengan pupuk organik ini, harapannya kondisi tanah kembali normal. Petani juga dapat meninggalkan penggunaan pupuk kimiawi yang berlebihan [pengembangan bibit lumut di Sidowayah menggunakan air tawar],” katanya.