Feeder BST Solo Bertahan Berkat Carteran

Angkutan pengumpan (feeder) Batik Solo Trans (BST). (Solopos/M. Ferri Setiawan)
17 Desember 2018 14:15 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Layanan carter (sewa kendaraan) angkutan umum perkotaan (angkuta) atau feeder Batik Solo Trans (BST) menjadi satu-satunya jalan menutup kekurangan setoran. Sepinya penumpang membuat pilihan itu tak terhindarkan meski Dinas Perhubungan (Dishub) Solo melarang kendaraan pengumpan itu disewa saat jam operasional.

Salah seorang pengurus Koperasi Bersama Satu Tujuan (BST), Tolas, mengaku setiap pekan setidaknya ada beberapa angkuta yang melayani carter antar jemput penumpang. Hal itu dilakukan lantaran pengemudi feeder kerap merugi karena pendapatan yang mereka peroleh tidak lebih besar daripada pengeluaran operasional untuk bahan bakar minyak (BBM) dan sebagainya.

“Sebenarnya carter diperbolehkan di luar jam operasional, tapi kami tetap melayani saat jam operasional karena kan tidak semua unit dalam satu jalur dicarter bersamaan. Unit yang dicarter akan lapor ke koperasi sehingga tidak berdampak pada layanan transportasi masyarakat,” kata dia dalam diskusi Panel Eksistensi Angkot dan Tantangan Layanan Transportasi Publik Urban Social Forum di Rumah Banjarsari, Solo, Minggu (16/12/2018).

Tolas menyebut konsumen yang memesan layanan carter biasanya langsung kepada sopir, sehingga koperasi tak bisa melakukan penjadwalan unit. Namun, jika carter itu dilakukan melalui koperasi, pengaturan unitnya dilakukan oleh koperasi.

“Selama sepekan satu unit angkuta bisa melayani dua sampai tiga kali carter baru cukup untuk menutup setoran. Soal carteran kami menang kapasitas dibanding layanan angkutan online. Sudah di ujung tanduk, enggak ada pilihan lain,” ucapnya.

Lebih jauh dia mengatakan jumlah angkuta di Kota Bengawan terus menurun sepanjang tahun. Di masa jayanya pada era 1980-an, jumlah angkuta mencapai 300-an unit kemudian menyusut menjadi separuhnya pada 2002.

Peremajaan menjadi feeder membuat jumlahnya tetap di angka 150-an. “Koperasi Trans Roda Sejat [TRS] dan BST sama-sama mengelola puluhan unit feeder yang melayani penumpang di sembilan koridor. Angkutan peremajaan saat ini seratusan lebih dan yang lama sekitar 50 unit,” kata Tolas.

Penggagas Bandung Eco Transport, Windu Mulyana, mengaku saat ini Pemkot Bandung tengah menjajal layanan antar jemput siswa sekolah menggunakan angkuta. Jika uji coba ini berhasil, peluang itu bisa diterapkan di kota-kota lain sehingga bisa memperpanjang umur layanan transportasi tersebut.

“Kami menggunakan lima angkuta mengantar jemput 50-an anak. Mereka kami jemput di lokasi yang sama kemudian diantarkan ke sekolah. Layanan ini juga memiliki standar operasional prosedur [SOP] mirip di Solo,” kata dia.

Windu menyebut SOP itu antara lain sopir dan kru tidak merokok, berpakaian rapi, antar jemput dalam sehari oleh sopir yang sama, dan sebagainya. Siswa sekolah yang menjajal layanan itu juga mendapatkan pendidikan karakter saat menumpang angkuta, seperti meletakkan tas di dada.

“Tahun depan kami berencana menambah jumlah angkuta dan sekolah yang dilibatkan karena respons positif siswanya. Mereka bisa mengobrol saat menuju ke sekolah dan sebaliknya. Kami akan terus mencoba mendapat kepercayaan sekolah-sekolah lain,” ungkap Windu.