Diuji Coba, Flyover Manahan Solo Butuh Manajemen Lalu Lintas Menyeluruh

Arus lalu lintas di Jl. dr. Moewardi setelah flyover Manahan Solo, Rabu (19/12 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
19 Desember 2018 20:15 WIB Kurniawan Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo mengakui pengoperasian jalan layang (flyover) Manahan Solo membutuhkan manajemen rekayasa lalu lintas secara menyeluruh.

Hal itu setelah melihat kondisi lalu lintas selama uji coba flyover yang dibangun pemerintah pusat tersebut, Rabu (19/12/2018). Flyover Manahan rencananya dioperasikan secara resmi untuk umum mulai Jumat (21/12/2018).

Uji coba itu sekaligus simulasi pengoperasian jalan layang Manahan sebelum diresmikan Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, Jumat. Simulasi dimaksudkan untuk memetakan lebih kompleks berbagai potensi masalah dari operasional jalan layang pertama di Kota Bengawan tersebut.

Pantauan Solopos.com, sejumlah pengguna jalan masih kebingungan dengan pengaturan arus lalu lintas di seputaran jalan layang. Sebagian dari mereka memilih nekat melakukan manuver yang sebenarnya tidak dibolehkan lantaran berpotensi membahayakan pengguna jalan lainnya. Manuver berbahaya itu misalnya langsung memutar balik arah kendaraan setelah melewati jalan turunan flyover.

Perilaku seperti itu terjadi di ujung flyover di Jl. Adisucipto dan Jl. dr. Moewardi. Kondisi itu membuat petugas harus bekerja ekstra mengarahkan pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor untuk tidak langsung memutar balik setelah keluar dari flyover.

Petugas memasang water barrier agar pengguna jalan tak langsung memutar balik. Namun tetap saja masih ada pengguna jalan yang nekat memutar balik kendaraan di ujung rangkaian water barrier.

Terpantau Solopos.com, Rabu siang, di ujung water barrier di Jl. dr. Moewardi, kendaraan yang memutar balik membuat arus kendaraan dari arah jalan layang menjadi tersendat dan menumpuk di Jl. dr. Moewardi.

Saat itu sudah tidak terlihat petugas yang mengatur arus lalu lintas di lokasi itu. Kepala Dinas Perhubungan Solo, Hari Prihatno, saat diwawancarai wartawan mengakui dibutuhkan rekayasa lalu lintas secara menyeluruh terkait pengoperasian jalan layang Manahan.

Simpang Empat Mapolresta Surakarta dan Simpang Tiga Kalitan jadi kunci penting. “Kuncinya di dua lokasi itu. Suplai kendaraan dari atas [jalan layang] harus diatur di situ agar arus lali lintas di atas landai terus, tidak ada penumpukan. Bila persimpangan Kalitan dan Mapolresta macet, arus kendaraan di jalan layang akan terjadi masalah. Selama masa simulasi ini kami terus lakukan evaluasi dan pembenahan,” tutur dia.

Hari menjelaskan jalan layang dibuka hingga Kamis (20/12/2018) sekitar pukul 10.00 WIB. Setelah itu jalan layang ditutup untuk uji beban. Pada Kamis malam juga akan digelar umbul donga hingga sekitar pukul 24.00 WIB.

“Lalu esok paginya [Jumat, 21/12/2018] ada acara simbolis pembukaan jalan layang bagi masyarakat umum,” urai dia.

Hari menerangkan pembangunan jalan layang Manahan sejatinya untuk mengurangi kemacetan arus lalu lintas di Purwosari, sekitar Pasar Nongko, Gilingan, dan Stasiun Balapan. Lokasi-lokasi tersebut menurut dia merupakan simpul kemaceta kendaraan. “Kami uji coba satu bulan, kalau ada kekurangan kami laporkan,” imbuh dia.

Berdasarkan perhitungan awal, keberadaan jalan layang Manahan dapat mengurangi kemacetan hingga 50 persen di kawasan Purwosari. Ihwal titik pertemuan arus kendaraan dari barat dan utara di jalan layang, Hari optimistis tidak akan muncul masalah bila arus kendaraan (buangan) dari jalan layang berjalan lancar.