Kisah Sukses Jumariyanto Wonogiri Bangun Regar Sport Indonesia

Jumariyanto bos Regar Sport Indonesia (Istimewa)
19 Desember 2018 06:00 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Kisah sukses Jumariyanto, wong Wonogiri membangun Regar Sport Indonesia layak menjadi inspirasi semua pihak yang ingin membangun bisnis. Membangun bisnis bukan melulu urusan produk dan uang. Begitu pula membangun bisnis dalam jaringan (daring), hubungan pelanggan dan produsen tak cukup sebatas keranjang dan klik dengan sekat layar monitor. Ada sisi humanis yang haram diabaikan yakni pelayanan.

Setidaknya, itulah yang diyakini Jumariyanto, 37, pengusaha muda asal Kaloran, Giritirto, Wonogiri. Perjalanan Jumariyanto membangun perusahaan konfeksi Regar Sport dengan omzet yang kini mencapai Rp4,7 miliar per bulan tak sesingkat namanya.

Jumariyanto pernah bangkrut saat berbisnis ketela pohon dan bebek pedaging. Ia juga pernah mencicipi manisnya usaha sembako on the road, budi daya lele hingga waralaba lele chip yang dibuatnya secara tak sengaja. Semua bisnis Jumariyanto tak pernah lepas dari pelayanan, interaksi manusia dengan manusia, bukan dengan mesin.

Inisiatif Jumariyanto membuka Regar Sport Indonesia dimulai dari rasa takjub atas hasil risetnya sendiri soal produk alat olahraga. Jumariyanto menemukan sepatu seharga Rp1,5 juta lazim dipakai pemain voli kelas kompetisi antarkampung.

Harga itu tak Jumariyanto  jumpai di olahraga manapun termasuk olahraga yang paling merakyat, sepak bola. “2013, Regar Sport masih rintisan. Saya jadi reseller. Saya enggak pakai modal sepeser pun wong sistemnya mirip dropship,” kata Jumariyanto Regar Sport Indonesia, saat berbincang di rumahnya, Kampung Kaloran, Giritirto, Wonogiri, akhir pekan lalu.

Diawali Voli

Karyawan Jumariyanto di Regar Sport

Foto: Karyawan Regar Sport Indonesia di Wonogiri (Solopos-Cahyadi Kurniawan)

Pada 2014, usaha jersey volinya terus berkembang. Jumariyanto mulai mengembangkan konsep marketing, salah satu jurusnya adalah membangun mitra dengan para agen. Jumariyanto memberikan enam jaminan kepada agen, yakni jaminan harga, keuntungan, pasar, sistem, pengembangan bisnis, dan garansi kualitas.

“Kami beri garansi 100 persen. Jika pesanan pertama salah, kami buat ulang. Kedua masih salah, kami buat ulang. Kami bahkan pernah sampai 4-5 kali revisi. Apa yang terjadi? Kami menyenggol secara manusiawi antara pelanggan dan produsen. Ini bukan sekadar bisnis produk dan uang. Ini soal trust,” beber Jumariyanto.

Kini, ada 1.000-an agen mulai dari customer service dan agen itu sendiri yang membesarkan Regar Sport. Jumariyanto tak besar sendirian, Jumariyanto menciptakannya. Ada pelatihan, pendampingan, dan target bagi para agen. Jumariyanto selalu mencontohkan jika peluang transaksi adalah 10 persen pelayanan, maka yang perlu dilakukan adalah menambah pelayanannya.

Menambah pelayanan dimulai dari promosi produk ke media sosial secara sistematis dan terukur. “Kami tidak hanya menghitung berapa transaksi harian. Setiap pelayanan yang dilakukan ada nilai sendiri. Setiap hari, semua itu harus dilaporkan dan dievaluasi,” beber bapak dua putra ini.

Bangun SDM

Foto: Karyawan Regar Sport Indonesia di Wonogiri (Solopos-Cahyadi Kurniawan)

Foto: Karyawan Regar Sport Indonesia di Wonogiri (Solopos-Cahyadi Kurniawan)

Soal SDM, Jumariyanto tak pernah menerima “produk jadi” atau yang berpengalaman. Di pabriknya, ia lazim menerima lulusan SMP atau SMA/SMK dan tanpa jaminan ijazah. Hanya satu yang dia tanyakan saat wawancara calon karyawannya, kesanggupan untuk belajar. Jika ya, “Mari kita belajar bareng,” tiru Jumariyanto kepada pelamar.

Jumariyanto membikin kurikulum keahlian di pabriknya mulai dari desain, menjahit, hingga marketing. Kurikulum desain misalnya ada tahap I sampai IV. Saat lolos semua tahap, karyawan biasanya berpikir mereka lolos uji kemampuan.

“Bagi kami, mereka artinya naik gaji. Pada akhirnya bukan karena murahnya [gaji] tapi kemudahan mendapatkan SDM. Namun, yang utama adalah membangun komunitas. Ada komunitas desain di sini. Ke depan, kami kembangkan komunitas IT,” tutur Jumariyanto menutup perbincangan siang itu.