Lebih Tahan Cuaca, Menara Jagung di Boyolali Kini Dibuat dari Tembaga

Pengguna jalan melintas di samping menara Jagung di kompleks baru perkantoran terpadu Boyolali, Rabu (19/12 - 2018). Menara yang sebelumnya dibuat dari bahan jagung asli kini dibuat dari bahan plat tembaga. (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
21 Desember 2018 13:19 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI - Bangunan Menara Jagung di kompleks perkantoran terpadu Boyolali kini sudah berubah. Sebelumnya bagian luar bangunan itu tersusun atas jagung asli yang ditata rapi pada rangka dan kini menara bagian luar diganti dengan pelat tembaga.

Pemkab Boyolali sengaja merevitalisasi total menara yang tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) itu. Alasannya, bahan jagung asli sebagai penyusun menara tidak tahan cuaca. Jagung-jagung yang berwarna kuning itu berubah menghitam seiring berjalannya waktu karena ditempa cuaca panas dan hujan.

Sebelumnya menara yang dibangun 2016 itu pernah direvitalisasi pada 2017. Saat itu seluruh jagung dirontokkan dan diganti dengan jagung-jagung yang baru. Bahkan untuk memperpanjang usia menara, jagung-jagung itu sudah dilapisi cairan anticuaca. Namun kenyataannya, terik matahari dan siraman hujan tak mampu tertahan hingga jagung-jagung kembali menghitam.

Agar hal itu tidak berulang, Pemkab melalui Dinas Ketahanan Pangan (DKP) mengganti bahan penyusun menara secara total dengan tembaga. Rangka penopang juga diganti dengan yang lebih kuat.

Pemilihan bahan tembaga juga bukan tanpa alasan. Kabid Konsumsi dan Keamanan Pangan pada DKP, Hindrato Hudi, mengatakan penggunaan logam ini sekaligus memanfaatkan pengrajin tembaga lokal. Menurutnya, bangunan dibuat oleh pengrajin tembaga asal Tumang, Kecamatan Cepogo, Boyolali.“Selain agar menara lebih kuat, kami juga ingin memberdayakan pengrajin lokal,” ujarnya saat ditemui di sekitar lokasi, Rabu (19/12/2018).

Sementara itu, meski menara direvitalisasi total, namun ukuran dan bentuk asli tidak diubah. Menara berdiameter 3 meter ini dibuat sama setinggi 15 meter. 
Dengan revitalisasi yang menelan biaya Rp700 juta ini diharapkan menara akan lebih kokoh sekaligus tahan terhadap cuaca, sehingga keindahannya juga bertahan lebih lama.

Sejumlah warga Boyolali yang dimintai komentar mengenai menara baru tersebut berpendapat beragam. Sebagian mengatakan bangunan baru lebih bagus dan sebagian lain mengatakan berkurang ruhnya karena tidak ada lagi jagung aslinya.