Sebulan, Polres Sragen Ungkap 7 Kasus Pidana Dengan 15 Tersangka

Para tersangka kasus pidana berdiri berjajar menghadap barang bukti saat jumpa pers di halaman Mapolres Sragen, Jumat (21/12 - 2018). (Tri Rahayu/Solopos)
22 Desember 2018 19:30 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN — Selama sebulan terakhir, Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Sragen berhasil mengungkap tujuh kasus kejahatan dengan jumlah tersangka mencapai 15 orang. Polisi masih memburu tiga orang yang terlibat dalam sindikat kasus kejahatan yang kini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Belasan tersangka terdiri atas tiga tersangka dan dua DPO kasus kejahatan pencurian dengan pemberatan terhadap mesin disel traktor; dua tersangka dan dua DPO kasus pengeroyokan; satu tersangka kasus jambret; satu tersangka berstatus anak-anak kasus pencurian dengan kekerasan; empat tersangka kasus pencurian teroganisasi dengan barang bukti sebanyak 41 unit; satu tersangka kasus pencurian rumah kosong; dan tiga tersangka kasus perjudian.

Kronologi dan modus serta barang bukti setiap kasus tersebut disampaikan Kapolres Sragen AKBP Yimmy Kurniawan didampingi Kasatreskrim Polres Sragen AKP Harno dalam jumpa pers di halaman Mapolres Sragen, Jumat (21/12/2018).

Kasus pencurian teroganisasi dengan melibatkan bapak dan anak asal Mojolaban, Sukoharjo, yang bekerja sama dengan warga Plupuh menjadi kasus pertama yang diungkap Kapolres. Ketiga tersangka tersebut Sumaryono, 52, dan anaknya Ramadhani Nugroho, 25, yang keduanya warga Mojolaban, Sukoharjo, serta Sri Widodo, 36, warga Plupuh, Sragen.

“Masih ada satu DPO dengan inisial DNU. Mereka beraksi di tiga lokasi di Oktober dan November. Modusnya mereka melepas baut traktor di sawah kemudian diselnya dibawa kabur dengan menggunakan mobil. Mereka diancam hukuman tujuh tahun sesuai dengan Pasal 363 KUHP. Untuk penadahnya, yakni WNO juga masih buron,” katanya.

Selian mengungkap komplotan pencuri disel traktor, Yimmy juga mengungkap kasus pencurian spesialis toko yang juga teroganisasi dan sudah beraksi di lima lokasi kejadian perkara selama Juli-September 2018. Kapolres menyampaikan ada dua tersangka yang terpaksa tembak kakinya karena berusaha melawan aparat saat ditangkap di jalan tol.

“Mereka ini Wiyono, 56; Kheroman, 44; dan Abadi, 34, yang ketiga merupakan residivis asal Kabupaten Batang. Mereka membobol toko dengan cara merusak gembok. Mereka mendapat hasil per orang Rp7,5 juta. Mereka dijerat Pasal 363 KUHP dengan ancaman tujuh tahun penjara. Saat beraksi mereka menggunakan mobil sewaan Toyota Innova. Mereka sempat ganti pelat nomor juga. Barang buktinya paling banyak ada, yakni 41 item. Wiyono dan Kheroman itu sebagai eksekutornya,” ujarnya.

Penadah atas kasus pencurian terorganisasi juga sudah dibekuk Polres Sragen, yakni Muhammad Ridho. Kemudian Yimmy juga menyampaikan ada residivis pencurian biasa juga berhasil dibekuk atas nama Narto, 34, warga Sumberlawang, Sragen. Tersangka memasuki rumah korban yang kosong dan kemudian mengambil barang berharga di dalamnya.

“Ada juga kasus jambret yang dilakukan Benny Andhiko Apriandi yang berumur 18 tahun lebih delapan bulan. Korbannya perempuan di simpang empat perikanan Krapyak, Sragen Wetan. Ada juga seorang anak-anak yang menodongkan pisau kepada seorang sopir mobil seperti taksi online tetapi berhasil dilawan korban. Selain itu ada kasus perjudian yang melibatkan tiga orang tersangka dan salah satunya perempuan,” tuturnya.

Kapolres menjelaskan secara umum motif kejahatan yang dilakukan tersangka merupakan motif ekonomi, yakni ada yang untuk jajan atau untuk kebutuhan keluarga, kecuali kasus pengeroyokan yang dilakukan empat orang pemuda. Dia mengatakan kasus pengeroyokan itu disebabkan karena motif perempuan.