Flyover Manahan Solo Dibuka, PKL Kota Barat Kehilangan 70% Omzet

Kemacetan terjadi di Jl Dr Moewardi, Kota Barat, atau sebelah selatan Flyover Manahan, Solo, Jumat (21/12 - 2018) petang. (Solopos/Nicolous Irawan)
23 Desember 2018 22:35 WIB Insetyonoto Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Para pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Jl. dr. Moewardi, Kota Barat, Solo, yang jumlahnya sekitar 20 pedagang merasa dirugikan dengan pengoperasian jalan layang (flyover) Manahan Solo sejak Jumat (21/12/2018).

Mereka mengaku omzet mereka turun antara 50%-75% sejak dioperasikannya flyover Manahan. Menurut salah seorang PKL, Riyanto, penyebab menurunkan omzet karena sejak flyover dibuka terjadi kemacetan kendaraan di sepanjang Jl. dr. Moerwardi.

“Jalan jadi kacau, macet, pembeli sepi karena tak ada tempat parkir. Pendapatan turun 50 persen lebih,” katanya ditemui Solopos.com di warungnya, Sabtu (22/12/2018) malam.

Penjual masakan ayam dan nasi goreng ini menyebutkan bila sebelumnya omzetnya bisa mencapai Rp700.000 per malam sekarang turun menjadi Rp200.000 hingga Rp250.000 per malam.

“Informasinya PKL di Jl. dr. Moewardi ditempatkan di dalam Lapangan Kota Barat mulai Maret mendatang,” ungkapnya.

PKL lainnya, Wahyudi, menyebutkan keberadaan flyover malah membuat sengsara rakyat kecil. “Kami sebagai pedagang kecil sekarang ini hancur. Jalan menjadi macet sehingga membuat pendapatan turun 75 persen,” ujar penjual ayam goreng ini.

Pedagang yang sudah berjualan di Kota Barat sejak 20 tahun silam ini mengatakan keberadaan flyover tak sesuai rencana awal untuk mengurangi kemacetan.

Menurut Wahyudi, untuk mengurangi kemacetan panjang di Jl. dr. Moewardi, kendaraan dari Jl. M.T. Haryono dan Manahan setelah flyover semestinya bisa belok ke Jl. Yosodipuro (depan Solo Paragon Mall) seperti sebelumnya.

“Di perempatan Jl. Yosodipuro perlu dipasang traffic lights seperti sebelum ada flyover,” saran dia.

Tidak hanya PKL Kota Barat yang dirugikan, tukang parkir di Jl. dr. Moewardi ikut menanggung kerugian akibat keberadaan flyover tersebut.

Salah seorang tukang parkir di Kota Barat, Wiyoko, mengaku kehilangan pekerjaan karena kendaraan tak boleh parkir di depan SDN 15 Mangkumen Lor.

“Padahal dulu pendapatan saya bisa mencapai Rp100.000 per hari sekarang nganggur,” ungkap dia yang mengaku menjadi tukang parkir sejak 2016 silam.

Sementara itu, dari pantauan Solopos.com, Sabtu (22/12/2018) malam, di flyover terjadi kemacetan kendaraan cukup panjang dari depan Stadion Manahan hingga Jl. dr. Moewardi.

Kemacetan kendaraan juga terjadi dari arah Jl. dr. Moewardi menuju ke arah Jl. Adisucipto. Untuk mengurai kemacaten, dua polisi lalu lintas sekitar pukul 20.15 WIB membuka water barrier di perempatan depan mesjid Kota Barat.

Kendaraan roda empat boleh berbelok menuju ke jalan Jl. Mawar di sebelah masjid Kota Barat.