Wonogiri Bangga! Perjalanan Regar Sport Indonesia Bertekad Go Public

Jumariyanto, bos Regar Sport Indonesia (Istimewa)
26 Desember 2018 08:00 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Regar Sport Indonesia bisa jadi usaha konfeksi lintas kelas.  Regar Sport Wonogiri lahir dari bisnis jersey rumahan, berkembang jadi usaha kecil beromzet jutaan, dan kini menjadi industri yang menyerap ribuan karyawan mulai dari manajemen, penjahit hingga agen.

Pendiri Regar Sport Indonesia, Jumariyanto, 37, mengisahkan perjalanan panjang usahanya. Bisnis riilnya dibangun kali pertama dengan membuka Sembako on The Road pada 2010. Usahanya adalah menawarkan sembako kepada rumah tangga di Wonogiri Kota. Karena margin laba dinilai kecil, ia lalu menjadi reseller jersey voli pada 2013 secara daring.

Sambil jualan jersey dan sembako, Jumariyanto membuka bisnis ternak bebek pedaging bersama kawannya dengan kapasitas 4.000 ekor di Jatiroto. Karena persoalan pakan dan permainan jarak panen oleh tengkulak, bisnis ini bangkrut.

Di tahun yang sama, Jumariyanto juga berbisnis ketela pohon. Jumariyanto menyewa lahan empat hektare dan berburu tujuh truk pupuk kandang saat memulainya. Usaha ini pun bangkrut.

Lele

Aktivitas di Regar Sport Indonesia yang berlokasi di Wonogiri

Foto: Aktivitas di Regar Sport Indonesia yang berlokasi di Wonogiri (Solopos-Cahyadi Kurniawan)

Tak patah arang, masih pada 2014, Jumariyanto membuka budi daya lele di sela-sela menjalankan bisnis reseller jersey. Hasil usaha reseller inilah yang dipakai untuk menopang bisnis bebek, ketela pohon, dan lele. Dari lele, Jumariyanto Regar Sport memiliki 120 kolam dengan 60-80 adalah miliknya. Sisanya join dengan warga.

Kuota sekali panen lele sekitar 800 – 900 kilogram (Kg). Hingga suatu ketika, lelenya mengalami kerdil. Lele itu diolah menjadi lele chip. Respons pasar bagus. Jumariyanto memasarkannya dengan cara menyerupai waralaba. Hasilnya, ia punya 13 booth tersebar di Tangerang, Jakarta, Semarang, Solo, dan lainnya. Bisnis lele konsumsi beralih ke lele chip.

“Pada akhir 2014, saya galau. Ternyata ada over limit manajemen. Saat kolam disebar, risiko makin tinggi walaupun omzetnya Rp40 juta-60 juta per bulan,” terang Jumariyanto.

Di tengah kegundahannya, Jumariyanto mengingat satu hal: bisnis lelenya ditopang hasil usaha reseller. Lantas, Jumariyanto memutuskan fokus pada bisnis jersey. Pada 2015, Jumariyanto mulai membangun sistem produksi.

Jumariyanto Regar Sport menyusun Rencana Anggaran Bisnis (RAB) generasi I, II, III hingga generasi VI. RAB I target omzet satu lusin per hari atau setara Rp30 juta/bulan. RAB II, omzet dua lusin per hari, setara Rp60 juta/bulan. RAB III, tiga lusin per hari, setara Rp100 juta/bulan, dan seterusnya.

“Januari, saya membeli alat tapi baru Maret saya dapat tukang jahit. Lalu, pada Agustus, pesanan membeludak sampai tiga lusin per hari. Saya yakin ke sini [Regar Sport] lalu saya pailitkan lele sama seperti mempailitkan beras. Sesuatu yang menjadi piutang, saya hibahkan. Saya anggap lunas kecuali invoice,” kenang Jumariyanto.

Pada 2015, produksinya mencapai enam lusin per hari atau omzet Rp1,2 miliar per tahun. Permintaan meledak per bulan, tapi produksi terbatas. “Saya minta data penjahit ke Disnaker dan ke BLK sampai enam angkatan. Semua nomor HP saya hubungi satu-satu, enggak ada yang tersambung. Ada penjahit saya ajak gabung enggak mau karena Regar Sport belum dipercaya. Akhirnya saya buka info lowongan kerja,” beber Jumariyanto.

Modal

Foto: Aktivitas di Regar Sport Indonesia yang berlokasi di Wonogiri (Solopos-Cahyadi Kurniawan)

Foto: Aktivitas di Regar Sport Indonesia yang berlokasi di Wonogiri (Solopos-Cahyadi Kurniawan)

Pada 2016, Jumariyanto Regar Sport punya 12 tukang sablon dan 8 penjahit. Keterampilan menjahit dan sablon karyawannya pun hasil didikan Jumariyanto. Hasil pekerjaan mulai bagus, namun kuantitas kurang memadai. Sistem logistik (bahan baku) kacau karena harus cash. Solusinya, Jumariyanto Regar Sport menghentikan sablon dan beralih ke cetak.

“Modalnya dari mana? Semua bank menolak. Bahkan, BMT pun menolak. Saya akhirnya ketemu produsen mesin pada Jogja Expo. Saya sampaikan permasalahan saya dan menawar membeli mesin dengan diangsur cash keras. Satu mesin dibayar selama 6 bulan sekitar Rp30 juta per bulan. Tawaran saya diterima,” terang dia.

Hasilnya, pada 2016 omzetnya naik 4 kali lipat dibanding 2015.

Pada 2017, Regar Sport mencatatkan omzet Rp16 miliar per tahun. Kendati banyak menghadapi masalah SDM, perlahan ia bisa mencukupi logistik dan mesin. Ia mulai membangun manajemen modern dalam struktur perusahaan dan mengembangkan aplikasi.

“Pada 2018, kami mengalami kegagalan yakni terlambat menyediakan pabrik. Pabrik enggak bisa dibangun seperti mesin. Kami kelimpungan,” kata pria Kelahiran Wonogiri, 9 Juni 1981.

Empat tahun Regar Sport tumbuh, merekam beberapa hal menarik khususnya soal angka. Setiap tahun ada kenaikan omzet hampir 400%. Pola pertama adalah omzet setahun terjadi dalam omzet satu bulan. Ia mencontohkan omzet 2014, Rp360 juta, terjadi pada omzet Agustus 2016. Lalu, omzet pada 2015, Rp1,2 miliar, terjadi pada omzet Juli 2017. Omzet pada 2016, Rp4,1 miliar, terjadi pada Agustus 2018.

“Pola kedua, sangat berbahaya omzet 2017, Rp16 miliar seharusnya terjadi di Agustus 2019. Kami harus gerak cepat soal ini,” kata Jumariyanto.

Pola ketiga, saat omzet mencapai Rp16 miliar per bulan, ia mengubah strategi. Regar Sport membuka investor dengan modal Rp120 miliar dan target omzet Rp1 triliun per tahun. “Kami akan go public,” imbuh Jumariyanto.