Di Taman Doa Gesi Sragen Ini Pengunjung Juga Bisa Berwisata

Sejumlah warga khusuk berdoa di Taman Doa Santa Perawan Maria Di Fatima di Dusun Ngrawoh, Desa Pilangsari, Kecamatan Gesi, Sragen, Selasa (25/12/2018). (Solopos - Moh. Khodiq Duhri)
27 Desember 2018 11:15 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Gerimis tipis menyambut kedatangan Solopos.com saat tiba di Taman Doa Santa Perawan Maria Di Fatima, Dusun Ngrawoh, Desa Pilangsari, Kecamatan Gesi, Sragen, Selasa (25/12/2018).

Suasana tenang menyelimuti kompleks taman doa yang berjarak sekitar 12 km dari Kota Sragen ini. Taman doa seluas 1,4 hektare ini diresmikan Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati pada 2017 lalu.

Taman Doa Santa Perawan Maria Di Fatima menjadi tempat pilihan umat Katholik dari berbagai daerah untuk memanjatkan doa sebagai bagian dari prosesi perayaan Natal.

Namun, pengunjung taman doa ini tidak hanya kalangan umat Katholik. Keberadaan taman doa ini menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan dari berbagai latar belakang agama.

Mereka datang tidak untuk mengikuti prosesi doa, tetapi untuk melihat secara langsung kegiatan peribadatan di taman doa itu. Memasuki tangga masuk taman doa ini, setiap pengunjung akan disodori buku tamu.

Pengunjung harus meniti beberapa anak tangga dengan medan berkelok untuk sampai ke Gereja Yang Berjuang. Dari sini, pengunjung bisa melanjutkan perjalanan menuju kolam pertobatan sebelum tiba di taman tempat patung Bunda Maria berdiri.

Untuk menjangkau lokasi doa di hadapan Bunda Maria, pengunjung terlebih dulu harus melewati jalan melingkar tak berujung mengelilingi taman. Tak jauh dari taman doa itu, terdapat Kapel Adorasi yang melambangkan surga.

Desain Kapel Adorasi ini menyerupai musala dengan kubah berwarna kuning keemasan. Di samping Kapel Adorasi terdapat salib milenium yang merupakan kumpulan dari salib-salib berukuran lebih kecil.

“Ini kunjungan pertama saya di Taman Doa Santa Perawan Maria Di Fatima. Saya membawa serta rombongan 13 orang. Karena baru pertama, tadi sempat salah jalan," ujar Sutomo, 64, pengunjung asal Cilegon, Banten, saat ditemui di lokasi.

Sutomo yang lahir di Sambungmacan, Sragen, dan sudah lama menetap di Cilegon, mengetahui adanya Taman Doa Santa Perawan Maria Di Fatima dari media sosial. Ia penasaran untuk mengujungi taman doa tersebut saat perayaan Natal kali ini.

"Bangunan fisiknya sudah lumayan bagus. Tapi, alangkah lebih baik kalau ada pohon rindang di sekitar lokasi. Layout perlu ditata lagi supaya lebih menarik," terang Sutomo.

Taman Doa Santa Perawan Maria Di Fatimah mulai dibuka pada 2010. Pembangunan taman doa ini dilakukan secara bertahap dengan menggunakan dana yang terkumpul dari jemaat Gereja Santa Maria Perawan di Fatima Sragen.

"Pengunjung taman doa ini dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan lain-lain. Ada yang datang dengan maksud berdoa, tapi ada juga yang sekadar berwisata," terang Pengelola Taman Doa Santa Perawan Di Fatima, Antonius Joko Susilo.

Banyaknya pengunjung yang datang ke taman doa menjadi berkah bagi pedagang sekitar. Taman doa ini paling sedikit dihadiri sekitar 25 pengunjung dalam sehari. Pada saat perayaan Natal, pengunjung taman doa bisa mencapai ribuan orang sehari.

"Kalau ramai ya pasti makin laris dagangan saya. Ya sejak ada taman doa ini, warga sekitar, termasuk saya, banyak yang membuka warung makan di sekitar lokasi," terang Suwanti, 60, warga sekitar.