Durian Manisrenggo Klaten Jadi Hambar Pascaerupsi Merapi, Kok Bisa?

Buah durian. (shanghaiist.com)
30 Desember 2018 18:40 WIB Ponco Suseno Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Durian hasil pertanian di Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dinilai mengalami perubahan rasa pascaerupsi Gunung Merapi tahun 2006. Hal itu mengakibatkan penjualan durian di Manisrenggo hingga kini tidak optimal.

Berdasarkan data yang dihimpun solopos.com,  sejumlah desa di Manisrenggo menjadi sentra penghasil buah durian, seperti di Kepurun, Leses, Sapen, dan Ngemplakseneng. Luas tanaman durian di desa-desa itu kurang lebih 30 hektare. 

“Puncak panen durian di Manisrenggo itu akhir November lalu. Saat ini, musim durian di Manisrenggo sudah habis. Dalam satu tanaman durian berukuran besar, biasanya dapat menghasilkan 50 buah. Harga satu buah senilai Rp15.000-Rp70.000,” kata Camat Manirenggo, Wagiya Gambir, kepada solopos.com, Jumat (28/12/2018).

Wagiya Gambir mengatakan sebagian besar warga di Manisrenggo belum tidak menikmati hasil optimal saat musim durian berlangsung sejak Oktober 2018. Penyebabnya, rasa buah durian di Manisrenggo mengalami perubahan pascaerupsi Gunung Merapi tahun 2006.

“Hasilnya kurang optimal. Warga hanya menjual di sekitar sini [di Manisrenggo]. Pascaerupsi Gunung Merapi 2006, kondisi durian di sini banyak yang mlenyek. Di samping itu, rasanya hambar. Hal ini mengakibatkan tingkat penjualan tak optimal. Harganya paling tinggi pun biasanya di angka Rp70.000,” katanya.

Wagiya mengatakan pengembangan tanaman durian terus dilakukan di Manisrenggo. Salah satunya dengan cara mengolah durian menjadi bahan makanan.

“Durian ini kan bisa dibuat variasi menjadi makanan atau minuman. Ini dibutuhkan pelatihan juga. Kami mendorong sekaligus ingin mencarikan solusi terhadap persoalan yang dialami warga ke pemerintah kabupaten. Belum lama ini, kami sudah menggelar pelatihan pembuatan dawet,” katanya.

Kepala Desa (Kades) Kepurun, Sukadi, mengatakan daerahnya merupakan salah satu penghasil durian. Di samping durian, Desa Kepurun juga berusaha mengembangkan berbagai ekonomi kreatif desa.

“Saat ini baru fokus mengembangkan bakpia, jenang, dan lain sebagainya. Semua itu menjadi produk olahan warga Kepurun,” katanya.