Toko Mitra Program BPMKS Minta Pemkot Solo Tambah Mesin Transaksi

Orang tua siswa pemegang kartu BPMKS antre di depan Toko Serba Penni di kawasan Singosaren, Solo, meski toko belum buka, Selasa (25/12 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
01 Januari 2019 19:22 WIB Ayu Prawitasari Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Beberapa toko mitra program Bantuan Pendidikan Kota Solo (BPMKS) meminta Pemkot menambah mesin transaksi yang selama ini hanya satu mesin per toko.

Minimnya mesin transaksi membuat pengelola toko kewalahan dalam melaksanakan pencairan transaksi BPMKS. Berdasarkan evaluasi, kekurangan alat transaksi hingga keterbatasan stok barang menjadi kendala. Hal ini membuat banyak orang tua harus mencari stok barang di beberapa toko mitra lain alias tak bisa di satu toko saja.

Kasir Toserba Sami Luwes, Tri Endang, mengaku kewalahan melayani pengunjung yang merupakan pemegang kartu BPMKS. “Hari–hari terakhir masa pencairan, saya meladeni lebih dari 100 pengunjung. Itu membuat saya kewalahan. Apalagi alat untuk membayar hanya disediakan satu per mitra,” ujar dia kepada reporter Solopos.com, Tamara Geraldine, di Sami Luwes, Solo, Senin (31/12/2018).

Tidak adanya pengelompokan pengunjung, menurut Endang, juga menyebabkan panjangnya antrean. “Ya harusnya diberi pengelompokan, misalnya dibedakan antara penerima bantuan SD kelas I-III agar warga tidak antre, bahkan sampai pingsan di toko,” ujar dia.

Endang mengaku sering menemui warga yang pingsan lantaran kelelahan mengantre. “Yang pingsan tidak satu atau dua orang saja. Banyak sekali laporan orang pingsan saat mengantre nomor hingga saat berdesak–desakan masuk toko,” ujar dia.

Pemkot Solo diharapkan memberikan tambahan mesin dan memberikan pengelompokan khusus bagi pemegang kartu BMPKS. “Saya hanya berharap bisa ditambah mesin untuk menggesek kartu agar kasir bisa membuka 2-3 loket antrian. Ada pula pengelompokan khusus agar tidak terjadi antrean panjang sehingga warga kecewa,” ujar dia.

Menurut petugas satpam Toko Serba Penni, Sri Haryono, hingga Minggu (30/12/2018), masih banyak warga yang mengantre untuk berbelanja. “Warga yang mengantre nomor untuk berbelanja dana bantuan masih banyak. Mereka mengatakan masih ada dana yang tersisa lumayan untuk dibelikan buku atau bolpoin,” ujarnya.

Pembagian nomor antrean yang mengakibatkan warga berdesak-desakan membuat dirinya ditegur pemilik toko. “Kendalanya sebenarnya dalam pembagian nomor antrean. Banyak warga yang berdesak–desakan sehingga membuat nomor antreannya jatuh dan direbut warga lain. Saya pernah dimarahin bos karena tak bisa mengondusifkan antrean,” ujar dia.

Ia berharap agar Pemkot memberikan tambahan toko mitra dan tambahan alat untuk melakukan transaksi nontunai. “Sebenarnya harapannya sama seperti toko mitra lain, ada tambahan toko mitra dan tambahan alat untuk melakukan transaksi nontunai,” ujar dia.