Carikan Habitat Baru Macan Lawu, BKSDA Tetapkan Syarat Ini

Macan tutul yang tertangkap di Dusun Gondang, Desa Wonorejo, Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar, melewati masa karantina dan menghuni kandang display di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) atau Solo Zoo sejak Senin (31/12/2018). - Mariyana Ricky P.D.
01 Januari 2019 19:26 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO—Macan bernama latin Panthera pardus melas itu telah melewati masa karantina dan menghuni kandang display di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) atau Solo Zoo sejak Senin (31/12/2018). Pantauan Solopos.com, Senin siang, macan tutul itu meringkuk meski kedua matanya terbuka. Sebagai hewan malam, salah satu spesies kucing besar tersebut lebih aktif pada hari gelap.

Kepala BKSDA Jawa Tengah, Suharman, mengatakan pihaknya masih mendata dan menyurvei habitat dan penentuan posisi lokasi pelepasliaran macan itu. Yang menjadi perhatian di antaranya ketersediaan pakan, populasi sejenis, kompetitor, dan keamanan dari gangguan manusia. “Saya menugaskan Seksi I Wilayah I BKSDA Jateng untuk assessment [penilaian]. Apakah kalau dilepasliarkan tidak akan berkonflik lagi dengan warga dan harus tahu betul lokasi pelepasliarannya,” kata dia kepada Solopos.com, Selasa (1/1/2019).

Dokter hewan di Solo Zoo, Nuraini, mengatakan masa karantina di kandang gelap dilakukan selama sepekan. Setelah observasi dan pengecekan gigi, macan Lawu betina itu berumur 2,5 tahun dengan panjang 80-an cm, tinggi 60-an cm, dan berat 30-an kg. “Kondisinya sehat dan langsung mau makan. Tidak perlu menunggu 2-3 hari kemudian. Pakan kami kasih siang dan baru dimakan saat gelap. Jatah pakan per harinya 1,5 kilogram daging ayam campur daging sapi,” kata dia, Senin (31/12/2018).

Direktur Utama TSTJ Solo, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso, berharap macan tutul tersebut dapat dihibahkan kepada TSTJ. Selain belum memiliki koleksi macan tutul, ia inginTSTJ mejnadi lokasi penjodohan yang harapannya melahirkan anakan. “Sebagai lembaga konservasi binaan BKSDA, kami siap untuk dititipi. Ini ketemu betina, siapa tahu ketemu jodohnya dan punya anak,” ucap Bimo.

Penjodohan, kata dia, menjadi tanggung jawab Solo Zoo sebagai lembaga pelestarian, garda paling akhir di tengah situasi kritisnya habitat hutan dan perburuan liar. “Berdasarkan riwayat penjodohan dan kelahiran, harimau sumatra koleksi kami telah melahirkan tujuh ekor anakan. Anakan ini sebagian sudah diserahkan ke kebun binatang lain. Gajah kami yang bernama Dian juga sudah melahirkan,” papar dia.