Orang Tua Siswa Solo Kecewa SKTM Tidak Lagi Jadi Syarat PPDB 2019

Warga menunjukkan dokumen yang telah dilegalisir di Kantor Dispendukcapil kompleks Balai Kota Solo, Kamis (28/6 - 2018). (Solopos / M. Ferri Setiawan)
02 Januari 2019 06:15 WIB Tamara Geraldine Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sebagian orang tua siswa pemegang Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) cemas dengan penghapusan syarat SKTM sebagai modal masuk sekolah negeri pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019.

Menurut mereka, aturan bahwa sekolah harus memprioritaskan siswa yang memiliki SKTM itu dirasa adil. Salah satu warga Sumber, Banjarsari, Ririn Pujiastuti, 41, mengaku kaget mendengar informasi SKTM tidak lagi menjadi syarat pendaftaran siswa ke sekolah negeri.

“Saya ini orang tidak mampu, di mana-mana orang tua itu menginginkan anak mereka bisa menuntut ilmu di sekolah favorit,” ujarnya di Solo Grand Mall, Senin (31/12/2018).

Ia mengaku kebingungan untuk mencarikan anaknya sekolah negeri favorit dekat rumah jika SKTM sudah tidak digunakan. “Ya saya tidak tahu nanti anak saya dapat nilai berapa saat Ujian Nasional. Tapi nanti kalau misalnya dapat nilai jelek saya tak bisa mendaftarkan anak saya masuk SMAN 4 Solo,” ujarnya.

Ia mengaku sudah mengurus SKTM saat mendengar pemilik SKTM bisa diprioritaskan masuk di sekolah negeri favorit tidak berdasarkan nilai. “Saya sudah habiskan waktu untuk mengurus SKTM. Dulu katanya itu syarat utama agar bisa diprioritaskan masuk sekolah. Kalau tahu begini mending enggak mengurus dari dulu,” ujarnya.

Warga Laweyan, Hasta Widyaningrum, 40, juga mengaku kecewa lantaran SKTM dihapuskan dari daftar persyaratan PPDB 2019. “Kata tetangga saya dulu SKTM itu prioritas utama dibandingkan nilai Ujian Nasional. Ya kalau dihapuskan kasian anak saya bisa-bisa masuk sekolah negeri yang tak sesuai harapan,” ujarnya.

Sebagaimana diinformasikan, ada beberapa perubahan kebijakan dalam PPDB SMA 2019 di wilayah Jateng. Ada wacana zonasi akan diberlakukan berdasar kelurahan. Selain itu, SKTM tak lagi menjadi syarat masuk siswa ke sekolah negeri pilihan calon siswa tanpa mempertimbangkan nilai.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Solo dan Sukoharjo, Jasman Indratno, mengatakan rencana zonasi PPDB SMA berdasarkan kelurahan untuk pendistribusian siswa agar merata.

“Jawa Tengah akan menggunakan sistem zonasi pada PPDB SMA 2019 berdasarkan kelurahan, tapi masih belum kami putuskan mekanismenya,” ujarnya melalui sambungan telepon, Minggu (30/12/2018).

Panitia PPDB akan mengutamakan jarak tempat tinggal ke sekolah sesuai ketentuan zonasi. Jarak zonasi baik siswa yang memiliki SKTM atau siswa yang tidak mempunyai SKTM sama, tidak ada prioritas antara keduanya.

"Jika jarak mereka memungkinkan masuk dalam zonasi A maka kedua siswa itu dapat masuk ke sekolah zonasi A,” ujarnya.

Ia mengatakan ada jalur prestasi dan jalur pekerjaan orang tua dalam penerimaan PPDB SMA 2019. “Memang jalur prestasi maksimal 5% itu dibagi untuk calon siswa mempunyai piagam juara akademik maupun nonakademik. Kemudian jalur pekerjakan orang tua itu juga bisa dimasukkan tetapi maksimal 5%,” ujarnya.

Ia mengaku ini masih noted dan masih menunggu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah mengeluarkan peraturan terbaru tentang PPDB. “Kami masih menunggu Permendikbud, Pergub, dan juknis mengenai hal ini. Ini masih dirapatkan. Pelaksanaan PPDB SMAN didasarkan pada prinsip-prinsip objektif, transparan, akuntabel, tidak diskriminatif, tanpa membedakan suku, daerah asal, agama, golongan, dan status sosial atau kondisi ekonomi,” ujarnya.