Pengen Cari Batu Bata, Yuk ke Desa Tegalmade Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo

Pengrajin batu bata di Desa Tegalmade, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, menata batu bata yang akan dijemur dan dibakar sebelum dijual. Foto beberapa waktu lalu. (Solopos/ ony Eko Wicaksono)
02 Januari 2019 17:06 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO--Beberapa pria terlihat sibuk menata batu bata di pinggir jalan perdesaan. Sementara beberapa pria lainnya tengah memasukkan tanah liat yang telah dicampur air ke dalam cetakan dari kayu berbentuk segi empat. Mereka merupakan para pengrajin batu bata yang tersebar di sejumlah lokasi di Desa Tegalmade, Kecamatan Mojolaban.

Para pengrajin batu bata tersebar di sejumlah lokasi di wilayah Mojolaban seperti Desa Wirun dan Klumprit. Namun, jumlah pengrajin batu bata terbanyak di Desa Tegalmade. Mereka hampir saban hari memproduksi batu bata saat musim kemarau.

Bahan pembuat batu bata yang terbuat dari tanah liat diambil dari sisa-sisa lahan persawahan yang mengering selama musim kemarau. Para pengrajin batu bata mengambil tanah liat dari lahan persawahan yang tersebar di wilayah itu. “Pembuatan batu bata bisa maksimal hanya saat musim kemarau. Sangat butuh sinar matahari saat proses penjemuran,” kata Yatno, seorang pengrajin batu bata, saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis (13/12/2018).

Proses pembuatan batu bata membutuhkan waktu sehari-dua hari tergantung kondisi cuaca. Batu bata dijemur di bawah sinar matahari selama lebih dari lima jam. Kemudian, batu bata disusun rapi dan dibakar menggunakan kayu dan gambut selama beberapa jam. Saat proses pembakaran batu bata harus ditunggu agar tidak gosong.

Para pengrajin batu bata mampu memproduksi 150 buah-200 buah per hari. Batu bata itu kemudian dijual kepada pengepul yang mengambil langsung di lokasi produksi. Satu buah batu bata dijual Rp450-Rp500. Biasanya, para pengepul memasok batu bata ke sejumlah toko material bangunan di Soloraya.

“Penghasilan setiap bulan tidak menentu. Ya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah,” ujar dia.

Yatno menceritakan jumlah pengrajin batu bata yang tersebar di Desa Tegalmade kian berkurang. Mereka beralih pekerjaan menjadi pedagang atau membuka usaha kecil-kecilan seiring makin sulit mendapatkan tanah liat.

Selain batu bata, Desa Tegalmade memiliki sejumlah potensi lainnya seperti kerajinan batik dan sarung pantai. Mereka menggantungkan hidupnya dari membuat kerajinan batik dan sarung pantai itu. Kedua produk itu dipasarkan ke beberapa kota besar seperti Jogja, Semarang, dan Surabaya.

Biasanya, para pengrajin sarung pantai menjemur kain di gawangan yang terbuat dari kayu di lahan kosong. “Pemerintah harus memperhatikan nasib para pengrajin sarun pantai agar produknya tidak punah. Kalau bisa potensi desa ini dikembangkan dengan memfasilitasi pemasaran atau bantuan dana stimulan,” kata Sarip, seorang pengrajin sarung pantai.