25 Warga Wonogiri Sakit Seusai Makan Bersama di Malam Tahun Baru, Keracunan?

Suparno, 49, dirawat di ruang perawatan rawat inap Klinik Sabrina, Sidokriyo, Kerjo Lor, Ngadirojo, Wonogiri, Rabu (2/1/2019). (Solopos - Rudi Hartono)
02 Januari 2019 18:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Sebanyak 25 anggota Karang Taruna Menger RT 001/RW 002, Desa Kedunggupit, Sidoharjo, Wonogiri, mengalami muntah, mual, dan sakit kepala selama lebih kurang enam jam pada Selasa (1/1/2019) malam hingga Rabu (2/1/2018) pagi.

Sebagian dari mereka dirawat sampai di klinik kesehatan di Sidokriyo, Kerjo Lor, Ngadirojo, Wonogiri. Mereka diduga keracunan makanan yang disantap saat pesta perayaan malam pergantian tahun, Senin (31/12/2018) pukul 23.00 WIB atau 24 jam sebelum mereka mengeluh sakit.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Rabu pukul 09.00 WIB, sebanyak 14 orang dirawat di Klinik Sabrina di Sidokriyo, Kerjo Lor, Ngadirojo, Wonogiri. Selebihnya menjalani rawat jalan karena kondisi mereka tak separah lainnya.

Dua orang di antara mereka merupakan Ketua Rukun Tetangga (RT) Suparno dan Kepala Dusun (Kadus) Haryono. Perawat Klinik Sabrina, Hendro Nur Nugroho, saat ditemui Solopos.com di klinik tersebut, Rabu, menginformasikan beberapa pasien diduga akibat keracunan mulai datang ke klinik, Selasa pukul 23.00 WIB.

Mereka mengeluhkan mual, pusing, dan lemas. Seiring berjalannya waktu jumlah warga yang datang ke klinik dengan kondisi serupa terus bertambah. Pasien terakhir datang pada Rabu pukul 07.00 WIB.

Dia mencatat hingga Rabu pagi ada 14 pasien yang dirawat inap di klinik. Sebagian besar berusia belasan tahun berusia pelajar SMP dan SMA atau sederajat. Sembilan pasien lainnya menjalani rawat jalan. Para pasien dirawat dua dokter, yakni dr. Hendanarwati dan dr. A. Mursid.

“Setelah menjalani perawatan, kondisi para pasien sekarang [Rabu pukul 09.00 WIB] membaik. Kemungkinan sebagian besar sudah bisa pulang, sore nanti [Rabu],” ucap Hendro didampingi rekannya, I Putu Keanu.

Hingga saat dia menyampaikan informasi kepada Solopos.com, penyebab para pasien mengalami gejala klinis serupa itu belum diketahui secara pasti. Menurut Hendro, penyebabnya akan diketahui setelah hasil laboratorium keluar.

Ketua RT 001/RW 002 Menger yang juga salah satu pasien rawat inap, Suparno, kepada Solopos.com, mengatakan dia bersama Kadus dan para anggota karang taruna di dusunnya sebelumnya makan bersama saat merayakan malam pergantian tahun.

Mereka yang hadir di acara itu menyantap menu yang sama, yakni ikan nila dan ayam bakar. Menu disajikan menggunakan daun pisang. Makanan dimakan bersama sambal tomat dan lalapan yang terdiri atas kubis, timun, dan daun kemangi.

Saat makan atau setelah makan, mereka minum minuman bersoda. Ada lebih kurang 40 orang yang hadir di acara itu. Informasi terakhir yang dia peroleh, dari jumlah tersebut, 25 orang di antaranya sakit.

Sebagian dirawat inap di klinik, sebagian lainnya rawat jalan setelah menjalani pemeriksaan di klinik dan puskesmas.

“Ada yang tetap sehat, seperti dua anak saya. Mereka padahal makannya banyak. Ada pula yang hanya sakit ringan. Setelah minum obat bisa sembuh. Selebihnya sakit semua. Saya selaku Ketua RT dan Pak Haryono sebagai Kadus turut hadir karena diundang karang taruna. Kami pun ikut makan. Perut saya terasa mual mulai Rabu dini hari. Sebelumnya saya malah sempat membawa sejumlah pemuda ke klinik menggunakan ambulans. Setelah itu malah giliran saya yang dibawa ke klinik,” kata Suparno.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri, Adhi Dharma, mengatakan penyebab mereka sakit perut dan pusing akan diketahui setelah hasil pemeriksaan laboratorium keluar. Dia sudah mengirim sampel ke Laboratorium Kesehatan Dinkes Jateng.

Sampel itu seperti muntahan, sisa nila bakar, dan sisa minuman bersoda. Adhi menduga mereka sakit karena makanan yang mereka santap saat perayaan Tahun Baru terdapat bakteri. Kemunculan bakteri bisa dipicu banyak faktor, yakni dari bahan makanan, pengolahan, proses memasak, hingga panyajian.

“Tim surveilans sudah menghimpun data kronologi dari awal sampai akhir dan mencatat semua jenis makanan, cara pengolahan sampai penyajian. Data ini penting untuk mengetahui proses apa yang menyebabkan timbul bakteri,” jelas Adhi.