Pemkab Wonogiri Bagikan Alsintan Senilai Rp5,39 Miliar

Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, menyerahkan secara simbolis bantuan alat mesin pertanian (alsintan) kepada kelompok tani dan gabungan kelompok tani senilai Rp5,39 miliar di Pendapa Rumah Dinas Bupati Wonogiri, Senin (31/12) - Cahyadi Kurniawan.
02 Januari 2019 19:03 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI — Pemerintah Kabupaten Wonogiri mendistribusikan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) kepada kelompok tani (poktan) dan gabungan kelompok tani (gapoktan) senilai Rp5,39 miliar. Bantuan itu diberikan demi memodernisasi alat pertanian di Kota Sukses.

Bantuan alsintan itu meliputi hand tractor (traktor tangan), pompa air, cultivator (penyiang mekanis), hand sprayer (penyemprot), corn planter (penanam jagung), rice transplanter (penanam padi), power thresher (mesin perontok padi), dan paddy mower (mesin pemanen padi). Melalui bantuan itu, Bupati berharap ada penurunan biaya produksi petani dan peningkatan produktivitas pertanian. “Di Wonogiri, ada 58% petani dari total penduduk. Petani mempunyai peran vital dalam pengentasan kemiskinan di Wonogiri. Maka itu, pemerintah memberikan perhatian penuh pada sektor ini dengan melakukan modernisasi pertanian,” kata Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, di sela-sela penyerahan bantuan secara simbolis kepada poktan dan gapoktan di Pendapa Rumah Dinas Bupati Wonogiri, Senin (31/12/2018).

Bupati menilai banyak petani tidak mengerti soal pemanfaatan bantuan. Selama ini bantuan alat pertanian hanya digunakan oleh ketua poktan dan ketua gapoktan sehingga biaya produksi petamn lain tak pernah turun. Padahal, bantuan itu diberikan agar meringankan biaya operasional petani secara keseluruhan serta mengoptimalkan produktivitas petani. “Petani kita juga kebanyakan masih tradisional. Pola tanam saja misalnya sepanjang tahun ya padi. Padahal, ditanami komoditas lain juga menguntungkan misalnya semangka. Teknologi penggarapannya masih tradisional. Hal ini butuh kesadaran kolektif untuk mengubahnya,” kata Jekek, panggilan akrabnya.

Ia mengajak para petani lebih berdaya dengan bantuan mekanisasi pertanian. Sebab, petani ke depan memiliki peran sentral untuk memerangi kemiskinan di Wonogiri. Petani diminta mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang ada. “Saya menanam semangka dua bahu [sekitar 14.000 -16.000 meter persegi]. Yang separuh saya jual laku Rp36 juta. Padahal modal saya Rp20 juta. Panen selama dua bulan. Ada komoditas lain yang juga menguntungkan selain padi. Uang hasil panen bisa dikonsultasikan kepada pendamping soal alokasinya,” terang Jekek.

Ketua DPRD Wonogiri, Setyo Sukarno, menyatakan banyak keluhan diterimanya soal bantuan alsintan yang hanya digunakan ketua poktan dan ketua gapoktan. Anggota lain justru tidak tahu bantuan apa yang diterima kelompoknya.

Selain itu, evaluasi hanya digelar bersama Bupati soal distribusi pupuk menindaklanjuti surat dari Sekda Provinsi Jawa Tengah, disampaikan kartu tani tidak mutlak untuk mendapatkan pupuk bersubsidi. Petani bisa mendapatkan pupuk tanpa harus memakai kartu tani.

“Kami sering mendengar beberapa poktan belum menerima sosialisasi dari gapoktan. Kartu tani tidak mutlak untuk mendaptkan pupuk bersubsidi. Petani bisa mendapatkan pupuk tanpa harus pakai kartu tani. Petani bisa mendapatkan pelayanan terbaik,” kata Setyo.