7 Hari, Warga Solo Diserbu 12 Serangan Tawon

Petugas Damkar Klaten memusnahkan sarang tawon di rumah salah satu warga, beberapa waktu lalu. (Solopos/Dok)
03 Januari 2019 09:00 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO—Serangan itu sempat membuat Dinas Damkar kelabakan karena laporan muncul hingga dua kali dalam satu hari. Kepala Dinas Damkar Solo, Gatot Soetanto, mengatakan salah satu serangan paling ramai terjadi di depan Kantor Cabang BRI Jl. Jendral Sudirman.

Dua pohon turus jalan di tempat itu menjadi sarang yang cocok dengan ciri tawon Vespa affinis. “Kejadiannya siang. Pohon yang menjadi sarang tawon tersebut tertiup angin kencang. Karena sifatnya yang melindungi teritori, dia menyerang siapa saja yang melintas. Karena tawon mengira manusia mencoba merusak sarangnya. Untungnya tidak sampai mengeroyok. Ada tiga orang yang disengat,” kata Gatot saat dihubungi Solopos.com, Rabu (2/1/2019). 

Gatot mengatakan serangan tawon yang mengganas beberapa bulan terakhir tak hanya terjadi di Solo, tapi juga di Karanganyar, Sragen, Klaten, dan Sukoharjo. Beruntung, penanganan yang cepat tidak membuat warga yang disengat sampai meninggal.

Masyarakat diimbau tidak melakukan pembersihan sarang tawon secara mandiri karena sangat berbahaya. Serangan tawon jenis ini sangat mematikan, bahkan bisa menyebabkan orang meninggal. Sengatnya bisa memunculkan ruam merah hingga bengkak dan alergi yang menimbulkan rasa tidak nyaman pada tubuh. Kondisi itu bisa terjadi berhari-hari.

“Saya pernah disengat satu tawon saja, badan rasanya tidak karuan. Pating greges. Apalagi kalau sampai dikeroyok. Akibatnya bisa meninggal seperti kejadian akhir 2016 di Kecamatan Pasar Kliwon,” papar Gatot. 

Selain membahayakan jiwa, pembersihan mandiri juga berakibat fatal apabila tidak dilakukan hati-hati. Kasus yang kerap terjadi adalah keinginan warga membakar sarang tawon yang ditemukan di atap atau plafon rumah. Api justru meluas hampir membakar seluruh bagian rumah. “Kalau sudah seperti ini kami jadi harus kerja untuk memadamkan, tapi juga mengusir tawonnya,” ujar Gatot.

Ia meminta masyarakat melapor ke Dinas Damkar Solo apabila menemukan sarang tawon. Petugas akan membersihkannya secara gratis. “Kalau sudah tersengat tawon harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat penanganan intensif,” kata Gatot.

Dengan data serangan tersebut, sejak Januari 2018 hingga saat ini Dinas Damkar Solo menerima sejumlah 110 laporan temuan sarang tawon.

Di sisi lain, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tengah melakukan penelitian maraknya serangan tawon di Klaten. Penelitian dilakukan menyusul banyak laporan permintaan pembasmian sarang tawon hingga banyaknya korban sengatan tawon yang mencapai delapan orang meninggal dunia hingga akhir tahun ini di kabupaten itu.